<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yayasan Bhakti Luhur</title>
	<atom:link href="http://www.bhaktiluhur.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bhaktiluhur.org</link>
	<description>Services for the disabled, poor, and disadvantaged people.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Mar 2012 11:04:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.5</generator>
		<item>
		<title>mohon bantuan anak ROBI bondowoso penderita meningokel ternyata juga hydrocephalus</title>
		<link>http://www.bhaktiluhur.org/anak-bernama-robi-penderita-meningokel/</link>
		<comments>http://www.bhaktiluhur.org/anak-bernama-robi-penderita-meningokel/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 08:31:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paulus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bhaktiluhur.org/?p=2832</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.bhaktiluhur.org/anak-bernama-robi-penderita-meningokel/"><img align="left" hspace="5" width="150" height="150" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-DSC08103-copy-150x150.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="Resize of DSC08103 copy" /></a>anak bernama Robi penderita meningokel, mohon bantuan finansial operasi.terlampir surat dari pemerintah Bondowoso bisa transfer ke rekening yayasan bhakti luhur pusat BCA basuki rahmat malang (jl.jend basuki rahmat no.70-74-malang) no.rek: 011-30-9501-3 atas nama Yayasan Bhakti Luhur dengan intensi/pesan sewaktu transfer &#8230; <a href="http://www.bhaktiluhur.org/anak-bernama-robi-penderita-meningokel/">Baca selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-DSC08103-copy.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2839" title="Resize of DSC08103 copy" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-DSC08103-copy.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>anak bernama Robi penderita meningokel, mohon bantuan finansial operasi.terlampir surat dari pemerintah Bondowoso</p>
<p>bisa transfer ke rekening yayasan bhakti luhur pusat<br />
BCA basuki rahmat malang (jl.jend basuki rahmat no.70-74-malang)<br />
no.rek: 011-30-9501-3<br />
atas nama Yayasan Bhakti Luhur</p>
<p>dengan intensi/pesan sewaktu transfer atau setor di bank dengan tulisan &#8220;ROBI BONDOWOSO&#8221;, sehingga tidak tercampur dengan intensi lainnya terimakasih sebelumnya kami ucapkan</p>
<p>informasi dari Sr.Theresia Laiyan:</p>
<p>Salam damai dalam kasih Tuhan Bersama dengan ini saya akan menginformasikan berita terbaru tentang Robi.</p>
<p><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-DSC08104-nenek-ibu-puntung-copy.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2840" title="Resize of DSC08104 nenek ibu puntung copy" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-DSC08104-nenek-ibu-puntung-copy.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Dengan diantar oleh Bapak Untung, dengan penuh semangat Robi bersama Ibu dan neneknya dari Bondowoso berangkat ke Malang menuju Rumah Sakit Panti Nirmala dengan naik bus. Robi dan ibunya naik bus biasa-biasa saja alias tidak mabuk, tetapi neneknya mabuk sehingga ketika sampai di rumah sakit dalam keadaan yang kurang sehat (lemas). Tetapi semua sudah bisa diatasi dengan baik.   Setelah kita berjumpa di rumah sakit, kami bisa lebih banyak mencari informasi dari ibu dan neneknya. Robi adalah seorang anak yang sangat menderita baik secara fisik maupun batin, lahir pada tgl. 8 Januari 2008. Ketika lahir, sudah terdapat benjolan di atas hidungnya, ayahnya tidak mau menerima kenyataan ini. Setelah beberapa hari Robi lahir, ayahnya pergi entah kemana, sampai sekarang tidak mau bertanggungjawab. Ibunya tidak bekerja, yang mencukupi nafkah hanya neneknya yang sudah cukup tua termakan oleh penderitaan, pekerjaannya mencari rumput sehari penghasilannya hanya Rp. 12.000.  Ibu dan neneknya bercerita dengan bertetesan air mata. Tidak terasa ibunya memeluk saya, menangis, dan mungkin hatinya merasa lebih senang bisa menumpahkan semua perasaannya. Sangat sedih mendengarnya. Kalau bisa dikatakan, sudah jatuh tertimpa tangga. Kami memberikan kekuatan agar mereka berbesar hati menerima cobaan ini.</p>
<p><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-DSC08102-copy.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2838" title="Resize of DSC08102 copy" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-DSC08102-copy.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p>Selanjutnya jami mendaftarkan untuk bisa masuk rumah sakit, tidak membutuhkan waktu yang lama karena sebelumnya kami sudah kontak dengan pihak rumah sakit. Robi akhirnya masuk di lantai 4 kamar 426 di rumah sakit Panti Nirmala Malang, dengan dokter yang telah kami tentukan yakni Dr.Farhad Bal Afif. Dokter spesialis bedah syaraf yang sudah tidak asing lagi di wilayah Malang.</p>
<p><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-DSC08106-copy.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2841" title="Resize of DSC08106 copy" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-DSC08106-copy.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Setelah menyampaikan informasi yang cukup kepada dokter Farhad, dokter Fardah melakukan pemeriksaan dan menyarankan untuk dilakukan CT Scan. Itu hari pertama.</p>
<p><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-DSC08108-copy.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2842" title="Resize of DSC08108 copy" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-DSC08108-copy.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Menginjak hari kedua, pagi ini Dr.Farhad menyampaikan informasi berdasarkan hasil CT Scan, ternyata Robi juga menderita Hydrocephalus yang sudah cukup akut dan tindakan pertama yang harus dilakukan adalah operasi hydrocephalus (pemasangan slang). Karena tidak mungkin mengoperasi meningocelenya jika ada kendala hydrocephalus, diperkirakan akan terjadi kebocoran yang tidak diinginkan. Setelah operasi hydrocephalus dilakukan, dan diperkirakan dalam 2 minggu paling lama 1 bulan, sudah baik maka baru bisa dilakukan operasi meningocele.  Oleh karena situasi ini, pada saat ini kami sangat membutuhkan keputusan dari Perkasih, mengingat perkiraan semula hanya meningocele, ternyata juga mengalami hydrocephalus. Apakah operasi hydrocephalus ini akan disetujui oleh Perkasih? Karena tentu biaya menjadi 2x lipat. Situasi sangat mendesak untuk diputuskan, kami sangat mengharapkan keputusan dari Perkasih Surabaya, apakah tindakan operasi Hydrocephalus ini bisa dibantu. Jawaban ditunggu hari ini, karena kalau disetujui akan dilakukan operasi hydrocephalus hari Kamis, 8 Maret 2012.</p>
<p><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-DSC08109-copy.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2843" title="Resize of DSC08109 copy" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-DSC08109-copy.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Atas nama anak Robi, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua donatur Perkasih Surabaya dan donatur Bhakti Luhur yang telah peduli pada penderitaan Robi, semoga dengan uluran kasih dari donatur Perkasih Surabaya dan donatur Bhakti Luhur, meringankan penderitaan Robi dan keluarganya. Hanya doa yang bisa kami berikan, semoga Tuhan melimpahkan berkat dan rahmatNya kepada para donatur seluruhnya. Teriring salam dan doa</p>
<p><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-Robi1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2844" title="Resize of Robi" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-Robi1.jpg" alt="" width="432" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bhaktiluhur.org/anak-bernama-robi-penderita-meningokel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Students visit to help orphanages</title>
		<link>http://www.bhaktiluhur.org/students-visit-to-help-orphanages/</link>
		<comments>http://www.bhaktiluhur.org/students-visit-to-help-orphanages/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 05:05:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paulus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Timor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bhaktiluhur.org/?p=2829</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.bhaktiluhur.org/students-visit-to-help-orphanages/"><img align="left" hspace="5" width="150" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/logo-UCA2.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="logo UCA" /></a>Fransiskus P. Seran, Atambua Indonesia January 27, 2012 Students at Don Bosco Junior High School in Atambua, East Nusa Tenggara, yesterday visited two orphanages as a way to celebrate their school’s 52nd anniversary, which falls on January 31. Accompanied by &#8230; <a href="http://www.bhaktiluhur.org/students-visit-to-help-orphanages/">Baca selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/logo-UCA2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2830" title="logo UCA" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/logo-UCA2.jpg" alt="" width="560" height="136" /></a></div>
<div id="_mcePaste">Fransiskus P. Seran, Atambua</div>
<div id="_mcePaste">Indonesia</div>
<div id="_mcePaste">January 27, 2012</div>
<div id="_mcePaste">Students at Don Bosco Junior High School in Atambua, East Nusa Tenggara, yesterday visited two orphanages as a way to celebrate their school’s 52nd anniversary, which falls on January 31.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Accompanied by several teachers, they played and sang together with children, some disabled, at the Bhakti Luhur Orphanage and the New Life Rehabilitation Center.</div>
<div id="_mcePaste">They also distributed food and other items to the orphanages.</div>
<div id="_mcePaste">“The visits are a learning program outside the class. The students have spent more time in their classes. So starting today, we will introduce the program so as to mold the students’ character,” Arkadius Seran Joseph, a teacher, said.</div>
<div></div>
<div>source:</div>
<div id="_mcePaste">http://www.ucanews.com/2012/01/27/students-visit-to-help-orphanages/</div>
<div id="_mcePaste">http://www.cathnewsindonesia.com/2012/01/27/siswa-don-bosco-adakan-kegiatan-amal-dengan-anak-cacat/</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bhaktiluhur.org/students-visit-to-help-orphanages/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Journalists share love with orphans</title>
		<link>http://www.bhaktiluhur.org/journalists-share-love-with-orphans/</link>
		<comments>http://www.bhaktiluhur.org/journalists-share-love-with-orphans/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 05:04:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paulus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Timor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bhaktiluhur.org/?p=2826</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.bhaktiluhur.org/journalists-share-love-with-orphans/"><img align="left" hspace="5" width="150" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/logo-UCA1.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="logo UCA" /></a>Disabled children receive donations and gifts from the media on first visit Albertus V. Rehi, Kupang Indonesia October 10, 2011 Thirty members of the Forum for Journalists of East Nusa Tenggara Province on October 8 visited disabled children in the &#8230; <a href="http://www.bhaktiluhur.org/journalists-share-love-with-orphans/">Baca selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/logo-UCA1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2827" title="logo UCA" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/logo-UCA1.jpg" alt="" width="560" height="136" /></a></div>
<div id="_mcePaste">Disabled children receive donations and gifts from the media on first visit</div>
<div id="_mcePaste">Albertus V. Rehi, Kupang</div>
<div id="_mcePaste">Indonesia</div>
<div id="_mcePaste">October 10, 2011</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Thirty members of the Forum for Journalists of East Nusa Tenggara Province on October 8 visited disabled children in the Bhakti Luhur orphanage managed by Sisters of the Association of Institutes for Lay Missioners (ALMA) in Kupang, the provincial capital.</div>
<div id="_mcePaste">They donated 4.2 million rupiah (about US$467) and gave goods such as rice, instant noodles and milk to the orphanage, which is occupied by children aged under 14 years old, suffering from mental or physical disabilities.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">“We want to share our love with children in this orphanage,” Adrianus Putra Rianghepat, the forum’s secretary, said.</div>
<div id="_mcePaste">The money and material aids came from the journalists as well as other people caring for the disabled children, he said.</div>
<div id="_mcePaste">This was their first visit, he said.  “But we feel so touched by the children. We will try to organize similar programs in the near future.”</div>
<div id="_mcePaste">Sister Maria Magdalena, who coordinates the orphanage, received the donations. Thanking the journalists, she said: “Since its establishment in 2007, this is the first time this orphanage has received a group of journalists.”</div>
<div id="_mcePaste">She added that the orphanage still faces challenges and difficulties in taking care of and educating the disabled children. “For taking care of them, we are assisted by three volunteers,” she continued.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">source:</div>
<div id="_mcePaste">http://www.ucanews.com/2011/10/10/journalists-share-love-with-orphans/</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bhaktiluhur.org/journalists-share-love-with-orphans/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Atambua youths develop social awareness</title>
		<link>http://www.bhaktiluhur.org/atambua-youths-develop-social-awareness/</link>
		<comments>http://www.bhaktiluhur.org/atambua-youths-develop-social-awareness/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 05:03:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paulus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Timor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bhaktiluhur.org/?p=2823</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.bhaktiluhur.org/atambua-youths-develop-social-awareness/"><img align="left" hspace="5" width="150" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/logo-UCA.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="logo UCA" /></a>Indonesia November 19, 2010 INDONESIA: A group of Catholic high school students in Atambua diocese, eastern Indonesia, are focusing their attention in reaching out to the less privileged instead of merely discussing about them. The group, called Pelita (Light), was &#8230; <a href="http://www.bhaktiluhur.org/atambua-youths-develop-social-awareness/">Baca selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/logo-UCA.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2824" title="logo UCA" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/logo-UCA.jpg" alt="" width="560" height="136" /></a></div>
<div id="_mcePaste">Indonesia</div>
<div id="_mcePaste">November 19, 2010</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">INDONESIA: A group of Catholic high school students in Atambua diocese, eastern Indonesia, are focusing their attention in reaching out to the less privileged instead of merely discussing about them.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">The group, called Pelita (Light), was established in September 2010 with over 130 members in Atambua city. They began an outreach program by visiting an orphanage run by Bhakti Luhur Foundation where they distributed donations for less privileged children.</div>
<div id="_mcePaste">“As members of this group, we realized that our characters will be shaped by what we do. We have to develop solidarity and social awareness,” said group coordinator Elisabet Putri Fahik.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">source:</div>
<div id="_mcePaste">http://www.ucanews.com/2010/11/19/atambua-youths-develop-social-awareness/</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bhaktiluhur.org/atambua-youths-develop-social-awareness/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Good Day Team AB Charity</title>
		<link>http://www.bhaktiluhur.org/good-day-team-ab-charity/</link>
		<comments>http://www.bhaktiluhur.org/good-day-team-ab-charity/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 04:50:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paulus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kalimantan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bhaktiluhur.org/?p=2803</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.bhaktiluhur.org/good-day-team-ab-charity/"><img align="left" hspace="5" width="150" height="150" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/AB-charity-150x150.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="AB charity" /></a>13-September-2011 En-route to Sarikan, we stop by at an orphanage named &#8216;Bhakti Luhur&#8217; in Pontianak, INDONESIA, as we need to help deliver 2 wheelchairs for 2 very special kids. Their names are Ebet(Yellow T-shirt) and Imanuel(Black Stripe T-shirt), age 3 &#8230; <a href="http://www.bhaktiluhur.org/good-day-team-ab-charity/">Baca selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/AB-charity.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2804" title="AB charity" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/AB-charity.jpg" alt="" width="208" height="206" /></a></div>
<div>13-September-2011</div>
<div id="_mcePaste">En-route to Sarikan, we stop by at an orphanage named &#8216;Bhakti Luhur&#8217; in Pontianak, INDONESIA, as we need to help deliver 2 wheelchairs for 2 very special kids. Their names are Ebet(Yellow T-shirt) and Imanuel(Black Stripe T-shirt), age 3 and 6 years old. Both suffer from a disease that causes the head to swell. There are 387 causes for this illness and their type is Aacase I Symptom. It’s a case of a swollen brain and water retention in the head. They only can consume liquid food.</div>
<div id="_mcePaste">Ebet had gone through 2 operations. One is to widen his mouth to allow easy consumption of food and another a nose to help breathe better. The wheel chairs will help these kids sit better and allow easier feeding for the Sisters / Caretakers as they will become too heavy to lift when they grow older. However several modifications are needed to position them properly as their bone structure is very frail. We took measurements for Imanuel first as he is able to sit better and had already sent the wheelchair to the carpenter. As for Ebet, he still needs to wait 2 – 3 years before he can use a wheel chair.</div>
<div id="_mcePaste">Many people would pity and sympathize these 2 kids. However, I see their existence serve 3 very important lessons.</div>
<div><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2805" title="Resize of 2" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-2.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></div>
<div id="_mcePaste">One, reminding us that normality should not be taken for granted. If given their condition, we are not able to function humanly, enjoy the things we have, love our loved ones, travel to places we never been before.</div>
<div id="_mcePaste">Two, their spirit to stay alive is a good example of resilience. In the modern world, with chosen professions, we strive towards better living and being resilient is a part of everyday life.</div>
<div id="_mcePaste">Three, anyone in service to these 2 kids will receive important lessons on patience and loving unconditionally.</div>
<div><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2806" title="Resize of 5" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-5.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a></div>
<div id="_mcePaste">Upon completing this task, we headed to Sarikan. It’s good to see Sister Gratia again as she is a living example of resilience as well. She single handedly transform a piece of empty land to a church of awe. We wanted to get more information in how we can aid better for the poor families in this area. She gave us clear indication that a proper education center complete with living quarters is necessary and to support this purpose, she is prepared to give 2 hectares of land.</div>
<div></div>
<div><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2807" title="Resize of 7" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-7.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a></div>
<div id="_mcePaste">I am very encouraged by this gesture and was told that there will be 2 persons who will help with this project. They are Mr Andreas, a doctor specialize in children philosophy and Chris, a degree holder in ergonomics. I am very humbled by their presence because their specialties will serve different aspects of the children&#8217;s growth but all contributing towards the same purpose. We exchanged ideas and manage to conclude in a few things. I will elaborate them in SOUL Foundation discussions.</div>
<div id="_mcePaste">After gathering all these good thoughts, I headed back to Jakarta to meet Miss Ari, a principle for a Montessori school. Learnt more about the Montessori teaching / learning methods, did an observation for a class and realized it can be easily applied to the education system in Sarikan. Overall, I am happy we had received so many positive news in different fronts.</div>
<div id="_mcePaste">Visiting Sarikan in Jan 2012 will begin formal preparations. A survey will be conducted on the land parcel, we will have the 2 hectares marked out, look into the irrigation, electricity connection, drainage, floor plans and accommodate a Montessori learning environment. The next stage to ensure all infrastructure operate with the well being of it&#8217;s recipients and staff in terms of safety. It&#8217;s exciting times ahead and we are just getting started.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Your&#8217;s truly, GP.</div>
<div id="_mcePaste">This message was edited by Gentlepleas on 13-Sep-2011 @ 3:09 AM</div>
<div id="_mcePaste">To know more: abcharity@yahoo.com</div>
<div></div>
<div><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-9.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2808" title="Resize of 9" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Resize-of-9.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a></div>
<div id="_mcePaste">source:</div>
<div id="_mcePaste">http://forum.asianbookie.com/viewmessages.cfm?Forum=31&amp;Topic=2017792&amp;tz=9</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bhaktiluhur.org/good-day-team-ab-charity/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghayati Kehidupan Melalui Live In</title>
		<link>http://www.bhaktiluhur.org/menghayati-kehidupan-melalui-live-in/</link>
		<comments>http://www.bhaktiluhur.org/menghayati-kehidupan-melalui-live-in/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 04:45:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paulus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bhaktiluhur.org/?p=2800</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.bhaktiluhur.org/menghayati-kehidupan-melalui-live-in/"><img align="left" hspace="5" width="150" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/logo-kompasiana.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="logo kompasiana" /></a>REP &#124; 10 February 2012 Apakah anda tega membiarkan anak anda tinggal di lingkungan asing yang benar-benar kumuh sementara anda tinggal di rumah yang nyaman? Apakah anda sanggup melihat anak anda mengais-ngais sampah demi untuk mencari sesuap nasi sementara nasi &#8230; <a href="http://www.bhaktiluhur.org/menghayati-kehidupan-melalui-live-in/">Baca selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/logo-kompasiana.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2801" title="logo kompasiana" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/logo-kompasiana.jpg" alt="" width="300" height="71" /></a></div>
<div>REP | 10 February 2012</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Apakah anda tega membiarkan anak anda tinggal di lingkungan asing yang benar-benar kumuh sementara anda tinggal di rumah yang nyaman? Apakah anda sanggup melihat anak anda mengais-ngais sampah demi untuk mencari sesuap nasi sementara nasi di rumah anda melimpah sampai terbuang sia-sia tidak termakan? Apakah anda rela melihat orang lain menyuruh-nyuruh anak anda untuk melayaninya sementara di rumah mereka terbiasa dilayani? Pernah anda bayangkan bagaimana rasanya tinggal di bawah kolong jembatan? Tinggal di antara tumpukan sampah menggunung yang memancarkan bau tidak sedap?</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Saya yakin pasti jawabannya tidak. Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, bahkan rela menderita demi anaknya. Tetapi bagaimana jika sekolah memaksa anak anda untuk merasakan kerasnya kehidupan? Anak anda dipaksa meninggalkan segala kenyamanan dan fasilitas yang disediakan orang tua?  Kegiatan sekolah tersebut pasti akan menimbulkan pro  dan kontra di kalangan orang tua murid.</div>
<div id="_mcePaste">Salah satu kegiatan unggulan sekolah kaya adalah live in, sebuah kegiatan yang “memaksa” siswanya tinggal dan berbaur di lingkungan marjinal. Sebuah kegiatan yang diharapkan membawa nilai-nilai positif bagi pengembangan sisi sosial dan kemanusiaan siswa-siswa tersebut.  Tak jauh beda dengan tayangan televisi berjudul “Tukar Nasib”, siswa-siswa dibawa ke lingkungan yang bertolak belakang dengan kehidupannya sehari-hari. Contohnya SMA Kolose De Britto Yogyakarta yang mengirim 251 siswanya untuk diterjunkan ke tempat-tempat asing, menantang, dan yang tidak mereka ketahui sebelumnya (Kompas). Pada live in sosial yang berlangsung selama 24-30 Januari 2012, siswa SMA tersebut dikirim ke beberapa tempat, diantaranya tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Bantar Gebang,  pemukiman kumuh di kolong Tol Teluk Gong Jakarta Utara, dan Panti Asuhan Bhakti Luhur Malang (panti asuhan anak-anak berkebutuhan khusus).</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">Hari ini, anak pertama saya yang bersekolah di SMP Kristen Satya Wacana Salatiga mulai menjalani live in selama tiga hari di desa Cuntel, Kopeng, Kabupaten Semarang. Meski lingkungannya tidak seekstrim yang dijalani siswa SMA De Britto, sebagai orang tua rasa kekhawatiran tetap ada. Dalam lingkungan dan suasana yang sangat berbeda dengan kondisi di Salatiga, ia harus meninggalkan kenyamanan dan pelayanan di rumah. Terselip harapan untuk anak saya dan teman-temannya, semoga mereka yang terbiasa manja dan serba dilayani di rumah mampu beradaptasi tinggal di lingkungan pedesaan, bisa menikmati aroma kandang sapi yang menyatu dengan rumah, melihat kerja keras petani-petani di ladang, bisa tidur meski tanpa kasur yang empuk, dan tetap bisa makan dengan lauk seadanya. Suatu pengalaman berharga untuk bisa menghargai dan mensyukuri apa yang mereka miliki selama ini.  Semoga mereka bisa menghayati kehidupan melalui live in.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">sumber:</div>
<div id="_mcePaste">http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/10/menghayati-kehidupan-melalui-live-in/</div>
<div id="_mcePaste">http://www.yatikurniawati.com/menghayati-kehidupan-melalui-live-in/</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bhaktiluhur.org/menghayati-kehidupan-melalui-live-in/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Hidup di Tapal Batas</title>
		<link>http://www.bhaktiluhur.org/belajar-hidup-di-tapal-batas/</link>
		<comments>http://www.bhaktiluhur.org/belajar-hidup-di-tapal-batas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 04:43:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paulus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bhaktiluhur.org/?p=2796</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.bhaktiluhur.org/belajar-hidup-di-tapal-batas/"><img align="left" hspace="5" width="150" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/logo-kompas-ONLINE.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="logo kompas ONLINE" /></a>&#124; A. Wisnubrata &#124; Kamis, 9 Februari 2012 &#124; 10:36 WIB Dibaca: 5078Komentar: 10 &#124; Share: Arsip/SMA Kolese De Britto Dua siswa SMA Kolese De Britto, Daniel Ristanto Chang (kaus bergaris merah putih) dan Stefano Augusta Oka Mahendra (kaus putih), &#8230; <a href="http://www.bhaktiluhur.org/belajar-hidup-di-tapal-batas/">Baca selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/logo-kompas-ONLINE.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2797" title="logo kompas ONLINE" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/logo-kompas-ONLINE.jpg" alt="" width="342" height="84" /></a></div>
<div>| A. Wisnubrata | Kamis, 9 Februari 2012 | 10:36 WIB</div>
<div id="_mcePaste">Dibaca: 5078Komentar: 10</div>
<div id="_mcePaste">| Share:</div>
<div id="_mcePaste">Arsip/SMA Kolese De Britto</div>
<div id="_mcePaste">Dua siswa SMA Kolese De Britto, Daniel Ristanto Chang (kaus bergaris merah putih) dan Stefano Augusta Oka Mahendra (kaus putih), bersama warga setempat memulung sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, pekan lalu. Melalui pengalaman ekstrem hidup bersama orang-orang terpinggirkan, afeksi dan pemaknaan hidup para siswa diasah.</div>
<div id="_mcePaste">TERKAIT:</div>
<div id="_mcePaste">Diliburkan, Siswa SMA Bantu Pengungsi</div>
<div id="_mcePaste">Oleh A Budi Kurniawan</div>
<div id="_mcePaste">Di atas tumpukan ribuan ton sampah Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Stevanus Sani Alexander (17) bisa merasakan nikmatnya nasi sayur berlauk kerupuk. Tumpukan sampah bau bercampur lalat, belatung, dan air lindi tak lagi menjijikkan.</div>
<div id="_mcePaste">Di titik itu Sani justru bisa merasakan betapa berharganya nilai perjuangan hidup. Dengan hanya berbekal sekantong tas keresek berisi tiga setel baju, Sani bersama 39 rekannya dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Kolese De Britto, Yogyakarta, diberangkatkan menggunakan bus ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Bantar Gebang untuk menjalani live in sosial selama seminggu, 24-30 Januari.</div>
<div id="_mcePaste">Sani dan teman sekelompoknya merupakan bagian dari 251 siswa SMA Kolese De Britto yang juga diterjunkan ke tempat-tempat asing, menantang, dan yang tidak mereka ketahui sebelumnya.</div>
<div id="_mcePaste">Di TPA terbesar itu, mereka harus berbaur dan hidup bersama pemulung. Kenyamanan hidup di rumah yang telah dialami belasan tahun hilang seketika. Mereka harus larut dalam atmosfer hidup keras dan terkadang kejam.</div>
<div id="_mcePaste">”Di sana kami membantu pemulung mengumpulkan plastik. Satu kilogram plastik kotor dijual Rp 400, plastik bersih Rp 700. Petugas keamanan sempat melarang, memarahi kami, karena tak punya izin,” ucap Sani, sekembalinya ke Yogyakarta.</div>
<div id="_mcePaste">Di sana, mereka tidak bisa bersikap ”anak mama” karena harus mencari makan sendiri dari hasil kerjanya membantu pemulung. ”Saya bersama beberapa teman untuk mencari tambahan uang, tetapi hanya dapat Rp 1.000, selebihnya saya ditolak di mana-mana, rasanya sakit sekali. Ternyata, mencari uang tidak mudah,” ujarnya.</div>
<div id="_mcePaste">Pengalaman serupa dialami Cornelius Rikimadewa (17) yang mengalami secara langsung bagaimana para pemulung harus berjibaku dengan maut, bersaing mengais-mengais sampah di antara mesin ekskavator yang setiap waktu bisa menghantam tubuh mereka. Tak hanya itu, sesekali para pemulung juga bernasib sial tertancap tongkat gancu rekan-rekannya.</div>
<div id="_mcePaste">”Mencari uang tak hanya butuh keringat, tetapi kadang harus bertaruh nyawa,” ucap Riki.</div>
<div id="_mcePaste">Jauh di kolong Tol Teluk Gong, Jakarta Utara, Elang Sakra Abimantra (17) juga mengalami pengalaman yang jauh dari kehidupan kesehariannya. Setiap hari, ia harus berjuang jadi pemulung dan memilah sampah-sampah medis dari rumah sakit, mulai dari jarum suntik, botol infus, hingga kantong darah yang telah dikerubuti belatung karena membusuk.</div>
<div id="_mcePaste">Di lapak kumuh Teluk Gong, Elang juga merasakan betapa sulitnya mencari penghidupan. Tidur di bawah kolong jembatan layang, disitanya alat komunikasi, tak boleh bawa uang, sungguh sebuah penghayatan hidup yang sama sekali tak dibayangkan oleh anak-anak modern seperti Elang. ”Saya merasakan betul semangat dan daya juang para pemulung.”</div>
<div id="_mcePaste">Berbeda dengan pengalaman ketiga rekannya, siswa SMA Kolese De Britto lainnya, V Bimo Dwi Avianto (17), justru mendapat tugas live in di panti asuhan anak-anak berkebutuhan khusus Bhakti Luhur Malang, Jawa Timur. Bersama satu rekannya, setiap hari Bimo merawat tujuh anak berkebutuhan khusus.</div>
<div id="_mcePaste">”Kami merawat mulai dari memandikan, menggosok gigi, menyuapi, hingga bermain bersama mereka yang setiap saat air liurnya keluar dan tak bisa berbuat apa-apa. Saya yang dikaruniai fisik normal seharusnya lebih bersyukur,” kata Bimo.</div>
<div id="_mcePaste">Tahun 2011, cucu Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X, Raden Mas Gusthilantika Marrel Suryokusuma (18), juga pernah mengenyam pengalaman hidup bersama anak-anak berkebutuhan khusus di Panti Asuhan Bhakti Luhur Malang.</div>
<div id="_mcePaste">”Dibanding anak-anak panti yang dibuang orangtua mereka, hidupku ternyata jauh lebih beruntung. Aku sekarang bisa merasakan benar tetesan keringat perjuangan ibu yang perhatian terhadapku. Aku juga bisa lebih menghargai hidup, seperti dikatakan eyang kakungku, sebagai lelaki aku harus sembodo (berani menanggung risiko) dan mandiri dalam menghadapi tantangan dan kesulitan,” kata Marrel dalam refleksinya.</div>
<div id="_mcePaste"><strong>Tapal batas</strong></div>
<div id="_mcePaste">Penanggung jawab live in sosial SMA Kolese De Britto, Pater L Bagus Taufik Dwiko NP SJ, mengatakan, kisah-kisah hidup di lingkungan baru yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan sehari-hari siswa-siswa diharapkan mampu memunculkan pengalaman—tapal batas kehidupan di hati para siswa.</div>
<div id="_mcePaste">”Pengalaman ini memancing emosi siswa. Pada situasi dan kondisi yang berbalik dengan kehidupan sehari-hari, hanya ada dua kemungkinan, yaitu mereka akan mendobrak kelemahan atau justru mengikuti kelemahan.</div>
<div id="_mcePaste">”Jadi mereka benar-benar kita tempatkan di tapal batas kehidupan, yaitu pilihan hidup,” kata Pater Dwiko.</div>
<div id="_mcePaste">Pater Dwiko selaku penggagas kegiatan ini sempat disomasi karena kegiatan ini dinilai tidak manusiawi. ”Namun, orang tua akhirnya sadar setelah mengetahui perubahan signifikan pada diri anak-anak mereka pasca-kegiatan live in sosial,” kata koordinator live in sosial, Ig Kingkin Teja.</div>
<div id="_mcePaste">Guru pendamping siswa, J Sumardianta, menyatakan, potensi manusiawi anak diharapkan muncul dalam live in sosial ini.</div>
<div id="_mcePaste">sumber:</div>
<div id="_mcePaste">http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/09/10363288/Belajar.Hidup.di.Tapal.Batas</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bhaktiluhur.org/belajar-hidup-di-tapal-batas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ROMBONGAN 74</title>
		<link>http://www.bhaktiluhur.org/rombongan-74/</link>
		<comments>http://www.bhaktiluhur.org/rombongan-74/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 04:40:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paulus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bhaktiluhur.org/?p=2791</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.bhaktiluhur.org/rombongan-74/"><img align="left" hspace="5" width="150" height="150" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/rombongan-1-150x150.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="rombongan 1" /></a>Menyampaikan Titipan Allah langsung pada yang butuh Posted by Tim #SedekahRombongan on January 2, 2012 Adik Agustinus Raharjo umur 2 bln adalah salah satu penghuni Panti Asuhan Bhakti Luhur, Sumberlor, Kalitirto, Berbah, Sleman. Ia memiliki kelainan di Kaki kiri dan &#8230; <a href="http://www.bhaktiluhur.org/rombongan-74/">Baca selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Menyampaikan Titipan Allah langsung pada yang butuh</div>
<div id="_mcePaste">Posted by Tim #SedekahRombongan on January 2, 2012</div>
<div><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/rombongan-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2792" title="rombongan 1" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/rombongan-1.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></div>
<div id="_mcePaste">Adik Agustinus Raharjo umur 2 bln adalah salah satu penghuni Panti Asuhan Bhakti Luhur, Sumberlor, Kalitirto, Berbah, Sleman. Ia memiliki kelainan di Kaki kiri dan harus di amputasi. Agus bayi ini dipanggil, lucu dan ganteng, orang tuanya tidak mampu dan tinggal di Ambulu daerah timur Indonesia, Agus di bawa ke panti ini 1,5 bulan lalu, dari RS Panti Rapih tempat dia dilahirkan. Kelainan Kaki kiri Agus sudah di tangani beberapa kali sebelum keputusan amputasi di ambil , Yang terbaik untukmu gus gus …</div>
<div id="_mcePaste">Jumlah bantuan : Rp. 5.000.000,-</div>
<div id="_mcePaste">Relawan : @KarmanMove</div>
<div id="_mcePaste">Tanggal : 1/1/2012</div>
<div id="_mcePaste">sumber:</div>
<div id="_mcePaste">http://sedekahrombongan.com/rombongan-74.html</div>
<div><a href="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/rombongan-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2793" title="rombongan 2" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/rombongan-2.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bhaktiluhur.org/rombongan-74/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Natal dan Sukacita Berbagi</title>
		<link>http://www.bhaktiluhur.org/natal-dan-sukacita-berbagi/</link>
		<comments>http://www.bhaktiluhur.org/natal-dan-sukacita-berbagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 04:36:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paulus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bhaktiluhur.org/?p=2788</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.bhaktiluhur.org/natal-dan-sukacita-berbagi/"><img align="left" hspace="5" width="150" height="150" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/plugins/thumbnail-for-excerpts/tfe_no_thumb.png" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="" /></a>Walaupun hari Natal telah lama lewat, aku ingin berbagi pengalamanku yang sangat berharga ini kepada teman-teman semua&#8230; Hari itu, malam Natal. Kotbah sang Pastor di gereja begitu menancap di pikiranku,”Malam ini adalah malam yang paling indah bagi kita semua. Malam &#8230; <a href="http://www.bhaktiluhur.org/natal-dan-sukacita-berbagi/">Baca selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Walaupun hari Natal telah lama lewat, aku ingin berbagi pengalamanku yang sangat berharga ini kepada teman-teman semua&#8230;</p>
<p>Hari itu, malam Natal. Kotbah sang Pastor di gereja begitu menancap di pikiranku,”Malam ini adalah malam yang paling indah bagi kita semua. Malam dimana dari sebuah kesederhanaan akan tercipta kedamaian dan keselamatan besar, sukacita tak terhingga. Inilah saatnya kita bersolider dengan sesama, menciptakan harmonisasi di tengah dunia&#8230;” Setengah jam berlalu, dan sang Pastor menyudahi kotbahnya dengan kata-kata: jadilah berkat bagi sesama. Biasa, hal yang sudah sering aku dengar.</p>
<p>Pagi itu, hari Natal. Aku bangun jam 5.30 dan naik ke travel yang menjemputku untuk pulang ke Kediri. Akibat rasa kantuk yang masih amat sangat, aku melanjutkan tidurku di travel sampai akhirnya tiba di rumah jam 9.45. Badan dan pikiran belum 100% sadar, Mama menyambutku dengan kata-kata, ”Nanti jam 1 ikut Mama dan teman-teman ke Bhakti Luhur, ya!” Lalu Mama yang aktif berkegiatan di gereja itu segera membeberkan rencana kegiatannya. Aduh, ingin rasanya aku menolak ikut dan memilih untuk tidur saja karena badanku masih capek. Tapi tunggu, tidur siang di hari Natal??? Aku rasa itu tidak indah sama sekali. Oke lah, aku ikut!</p>
<p>Jam 1 siang, mobil yang mengangkut rombongan kami berangkat. Tujuan pertama kami adalah ke Panti Asuhan Bhakti Luhur. Teman-teman yang beragama Katolik pasti tahu Romo Paul Janssen, romo dari Belanda yang memprakarsai terbentuknya panti asuhan khusus anak-anak berkebutuhan khusus, miskin, dan terlantar itu. Sekitar 30 menit perjalanan dari kota, melewati kelok-kelok hutan yang sejuk, tibalah kami di Dusun Kalibago, Desa Kalipang, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri; tempat panti asuhan tersebut berada. Kami segera menurunkan bingkisan-bingkisan kecil untuk dibagikan kepada anak-anak di sana dari mobil.</p>
<p>Ucapan ’Selamat Natal’ dari Suster Brigitta dan Suster Magdalena menyambut kami dengan ramah. Agaknya kami tiba terlalu cepat, karena pada saat itu anak-anak sedang tidur siang. Lalu dua suster tersebut menemani kami berbincang di ruang tamu, menceritakan asal-usul anak-anak kurang beruntung yang dirawat di sana. Di sela-sela berbincang, muncullah Yusuf, anak yang cacat pada tangan dan kakinya tersebut selalu tidak bisa tidur siang. Saat ada tamu seperti kami, dia segera aktif dan ikut duduk. Yusuf yang awalnya seorang pengamen jalanan dari Jakarta tersebut ditemukan ”terdampar” di kota Pare sebelum akhirnya dibawa orang dan diserahkan ke sana. Banyak anak yang tak lagi diinginkan oleh orang tua ataupun keluarganya dan tidak pernah dijenguk. Di sinilah para suster dan perawat mencurahkan cinta kasih, tenaga, dan doanya untuk mereka.</p>
<p>Jam setengah 3 sore, anak-anak dibangunkan dari tidur siangnya lalu dimandikan. Di sana ada kurang lebih 6 orang perawat yang mengasuh 18 anak dengan bermacam jenis kecacatan. Ketika melihat mereka keluar menuju ruang tamu, timbul perasaan was-was dalam diriku. Aku sudah pernah mengunjungi panti asuhan ini beberapa tahun lalu, namun kali ini aku melihat banyak ”anak baru” yang tidak aku lihat sebelumnya. Anak autis yang  tidak dapat ditebak kelakuannya: kadang anteng, tetapi seketika dapat berubah menjadi agresif; anak keterbelakangan mental yang menatapku dengan pandangan aneh, anak yang suka berteriak dan berlari tak terarah, namun kebanyakan adalah anak down syndrome dengan wajah ”khas”nya, mulut menganga dan air liur yang menetes. Benar-benar ”pemandangan” yang membuat hati trenyuh. ”Semoga mereka ga berbuat apa-apa padaku,” hanya itu doaku dalam hati.</p>
<p>Ketika bingkisan dibagikan, anak-anak tersebut sangat antusias dan gembira. Mereka segera berteriak, merobek bungkus kue dan tak sedikit pula kue-kue itu bercerceran di lantai. Mereka memungutnya kembali, tak peduli betapa belepotan-nya mereka akibat kue itu. Beberapa anak memasukkan kue yang masih terbungkus ke dalam mulutnya. Awalnya ada perasaan jijik ketika harus mengambil kue berlumur air liur itu dari mulut mereka lalu membukakan bungkusnya. Setelah itu, salah satu anak down syndrome bernama Rizky itu menatapku dan tersenyum lebar, memperlihatkan mulutnya yang tanpa gigi. Ya Tuhan, hatiku terasa diguyur es, terharu akan kejadian itu. Mereka masih bisa mengucapkan terima kasih akan keberadaan orang-orang di sekitarnya.</p>
<p>Lama kami bergumul dengan anak-anak itu. Entah berapa kali tangan-tangan mungil yang berlumuran liur, kue coklat, dan gula-gula itu menarik-narik bajuku, lalu menggandengku menuju ruang tengah. Walaupun tidak dapat berbicara, lewat bahasa tubuhnya mereka mengajakku untuk duduk di lantai bersama mereka. Di ruang tengah terdapat televisi yang saat itu memutar karaoke lagu-lagu Natal. Mereka dapat menikmati alunan lagu dan bermaksud ikut menyanyi, walaupun suara mereka lebih serupa celotehan daripada nada. Tak lagi kuperhitungkan tanganku yang kotor dan tampaknya telah serupa dengan tangan mereka. Baju dan tangan bisa dibersihkan, tapi tak ada yang bisa menghapus kenangan akan binar-binar wajah mereka saat itu. Saat tiba waktunya kami pulang, senyum bahagia dan lambaian tangan mereka mengantar kami berlalu dari tempat itu.</p>
<p>Perjalanan kami belum selesai. Setelah dari Kalibago, kami menuju tengah kota Kediri, mengunjungi Panti Wredha yang berada di bawah yayasan gereja Santo Yoseph. Walaupun dinaungi oleh yayasan, ternyata panti wredha yang mampu menampung 28 orang nenek tersebut tidak dibiayai oleh gereja. Lalu darimana mereka mendapatkan biaya untuk operasional sehari-hari? ”Ya ada beberapa donatur, tapi itu tidak pasti. Tuhan Yesus yang akan mencukupkan. Kami percaya pada penyelenggaraan Illahi saja,” jawab seorang suster. Menurutku, sungguh cerminan iman yang luar biasa. ”Tiba-tiba saja, ketika kami membutuhkan, selalu ada orang baik yang membantu. Puji Tuhan sampai sekarang kami tidak kekurangan,” tambahnya disertai senyum. Hmm, aku percaya itu adalah sebuah bukti bahwa Tuhan sangat menyayangi umatNya.</p>
<p>Sama seperti di panti asuhan, kami juga membagikan bingkisan kecil berupa handuk dan kue kepada para nenek penghuni panti wredha itu. Memasuki ruangan tempat para nenek itu berkumpul, seketika aku disambut ”bau khas orang tua” yang mengingatkanku pada rumah nenekku sendiri. Hehehe&#8230; Nenek-nenek itu duduk rapi berjajar, dan ketika aku menyalami mereka satu persatu, wajah mereka menyiratkan sukacita seperti bertemu dengan keluarga sendiri. ”Terima kasih, selamat Natal, Tuhan memberkati, ya!” kata-kata dan genggaman tangan mereka memberikan semangat lebih untukku. Belum pernah aku merasa sangat dihargai seperti ini!</p>
<p>Selain nenek-nenek yang masih sehat, ada pula nenek yang buta, yang duduk di kursi roda, serta yang hanya bisa berbaring di tempat tidur karena sakit ataupun memang fisik mereka sudah tak mampu lagi. Semuanya dirawat dengan penuh cinta kasih oleh 4 orang suster dan 12 orang pembantu yang bekerja secara shift. Saat matahari terbenam, aku pulang dengan perasaan puas dan syukur yang luar biasa. Waktu yang singkat namun sarat makna. Aku mencoba menempatkan diriku di posisi mereka, lalu aku menyadari bahwa aku belum mampu menumbuhkan semangat dan iman layaknya para suster yang penuh pengabdian itu. Maksud sang Pastor mengungkapkan kalimat ”kesederhanaan akan mendatangkan sukacita besar, serta bersolider dengan sesama” kini telah aku rasakan. Terkadang aku menjalani duniaku sendiri, lalu lupa melihat sekeliling bahwa aku tidak sendiri saat menikmati indahnya hidup yang diberikan oleh Allah. Mereka yang kurang beruntung dan terabaikan itu ada, dan lewat berbagai tindakan ’sederhana’ dari orang-orang seperti kita, mereka dapat mengungkapkan rasa syukur yang sama. Kita diciptakan untuk berbagi hidup penuh kasih dengan mereka, dan betapa damainya hati saat dapat membahagiakan orang lain.</p>
<p>Thanks God. That&#8217;s Christmas.</p>
<p>sumber:</p>
<p>http://arzyjess.blogspot.com/2012/01/natal-dan-sukacita-berbagi.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bhaktiluhur.org/natal-dan-sukacita-berbagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PA Bhakti Luhur: Berharap Walikota Lebih Dekat Dengan Anak Panti</title>
		<link>http://www.bhaktiluhur.org/pa-bhakti-luhur-berharap-walikota-lebih-dekat-dengan-anak-panti/</link>
		<comments>http://www.bhaktiluhur.org/pa-bhakti-luhur-berharap-walikota-lebih-dekat-dengan-anak-panti/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 03:37:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paulus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kalimantan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bhaktiluhur.org/?p=2784</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.bhaktiluhur.org/pa-bhakti-luhur-berharap-walikota-lebih-dekat-dengan-anak-panti/"><img align="left" hspace="5" width="105" height="141" src="http://www.bhaktiluhur.org/wp-content/uploads/2012/02/Art-Partner-News-Kop.jpg" class="alignleft tfe wp-post-image" alt="Art Partner News - Kop" title="Art Partner News - Kop" /></a>Sabtu, 31 Desember 2011 MENGASUH anak yang normal saja sudah sulit, apalagi mengasuh anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental. Benar-benar sebuah pengabdian dan perjuangan yang sangat tidak mudah. Panti Asuhan (PA) Bhakti luhur yang beralamat Komplek Pembangunan I, jl Pandan, kelurahan &#8230; <a href="http://www.bhaktiluhur.org/pa-bhakti-luhur-berharap-walikota-lebih-dekat-dengan-anak-panti/">Baca selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">
<h2 class="date-header" style="margin-bottom: 0px; position: relative; font: normal normal normal 14px/normal 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; color: #bbbbbb; min-height: 0px; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; background-color: #539bcd;">Sabtu, 31 Desember 2011</h2>
</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>MENGASUH anak yang normal saja sudah sulit, apalagi mengasuh anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental. Benar-benar sebuah pengabdian dan perjuangan yang sangat tidak mudah.</div>
<div id="_mcePaste">Panti Asuhan (PA) Bhakti luhur yang beralamat Komplek Pembangunan I, jl Pandan, kelurahan Belitung Selatan Banjarmasin, didirikan pada awal Januari 2005, mendedikasikan pengasuhannya 90 persen untuk anak-anak yang keterbelakangan mental dan cacat phisik.</div>
<div id="_mcePaste">Suster Karti (43) pengasuh PA Bhakti Luhur menceritakan “ini adalah pengabdian kami untuk berbagi kasih dengan anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental dari keluarga yang tidak mampu. Bisa merawat mereka, merasakan kasih sayang kepada mereka, agar mereka bisa pintar, menjadikan hidup kami menjadi berarti.</div>
<div id="_mcePaste">Terkadang, sebagai manusia kami pun merasa kelelahan, sehingga semua rutinitas yang dijalani, menjadi sedemikian berat, sehingga emosi menjadi lebih terasa dan tidak bisa memberikan pelayanan yang optimal. Tapi, setelah melihat kelucuan anak-anak tersebut, dan kepolosan mereka, semua beban terangkat sirna, berganti dengan kasih sayang” ujar</div>
<div id="_mcePaste">Sebelum mengabdi di PA Bhakti Luhur di Banjarmasin, suster Karti sudah menjadi pengasuh di PA Bhakti Luhur di daerah lain sejak 1986. Ia kemudian kembali berkata “anak yang di asuh dalam PA Bhakti Luhur ada 26 orang, yang diluar panti ada 15 orang. Paling muda berumur 17 bulan.</div>
<div id="_mcePaste">Anak-anak tersebut di dapat dari kunjungan dari rumah-kerumah atau ada masyarakat yang memberitahukan kepada kami, bahwa disana ada anak yang memerlukan bantuan (dari keluarga yang tidak mampu dan mengalami keterbelakangan mental), maka kami segera mengunjungi, menolong mereka, memberi pelayanan, memberi bantuan fisioterapy dll. Selain itu ada pula masyarakat yang mengantarnya sendiri.</div>
<div id="_mcePaste">Karena disini adalah anak-anak yang berkebutuhan khusus, keterbelakangan mental dan ada yang hingga idiot yang mereka perlukan adalah kasih sayang yang tulus agar mereka gembira. Kita didik dan latih mereka hingga bisa membantu dirinya sendiri, paling tidak mereka bisa buang air kecil dan buang air besar sendiri.</div>
<div id="_mcePaste">Untuk anak yang normal, di sini ada 4 orang dari anak terlantar, salah satunya disekolahkan di TK Maria, dua diantaranya karena telah diterapi dan bisa 3M (membaca, menulis, menghitung) kami rujuk kesekolah SDLB di pelambuan.</div>
<div id="_mcePaste">Batasan purna asuh atau mandiri untuk anak-anak seperti ini tentunya lebih sederhana dari yang normal. Apabila anak-anak tersebut, paling tidak mereka sudah tidak lagi mengalami penyimpangan tingkah laku, sudah mengerti makan dan mandi, itu kami anggap sudah mandiri, kemudian kami kabarkan dengan keluarganya, apakah mau dibawa pulang.</div>
<div id="_mcePaste">Begitu juga menilai peningkatan atau kemampuan anak, itu dilihat dari perkembangan apakah tingkah lakunya tidak terlalu menyimpang lagi, seperti ada anak yang suka mencabut rambutnya dan menggigit bajunya hingga hancur, saat ini hal itu sudah tidak dilakukannya lagi, ini adalah peningkatan dari perkembangan mental si anak” katanya.</div>
<div id="_mcePaste">Mengenai fasilitas panti, Suster Karti berkata “PA Bhakti Luhur mempunyai 7 suster dan 5 pengasuh. Kemudian ada 9 kamar tidur, masing-masing kamar ada yang untuk dua orang, tiga orang atau lebih tergantung luas kamar dan kebutuhan dari si anak sendiri. Misalnya ada anak yang kalau malam suka teriak-teriak, sehingga satu kamar satu anak dengan satu suster, karena bila berkumpul dengan anak lain, tentunya akan mengganggu.</div>
<div id="_mcePaste">Sudah menjadi rutinitas disini, menyiapkan segala sesuatunya untuk anak-anak, bagaimana membuat rencana, seperti jam berapa mereka bangun pagi, mandi, berdoa bersama, makan pagi, terapi, makan siang, bermain, istitahat dll.</div>
<div id="_mcePaste">Anak yang lebih besar dilatih untuk membantu, seperti membersihkan meja makan, menjemur pakaian, melipat pakaian, dan mencuci piring. Walaupun mereka terbelakang mental, tapi pelajaran disiplin tetap diberikan, tapi tidak sampai dipukul, hanya di ajarkan untuk meminta maaf atas kesalahannya.</div>
<div id="_mcePaste">Antara pemasukan dan pengeluaran seperti biaya makan dan terapi dll, kita atur sedemikian rupa agar cukup, dan bila ada kelebihan sedikit kita simpan untuk keperluan panti kedepannya. Karena kami memang ingin merenovasi pondasi rumah panti ini, karena sudah miring, perkiraan memerlukan biaya Rp 800 juta”.</div>
<div id="_mcePaste">Setelah bercerita panjang lebar tentang anak-anak yang dibina dan dikasihinya, pada akhir perbincangan Suster Karti menitip pesan “walikota yang dulu, sangat dekat dengan anak-anak panti, kami berharap walikota sekarang juga bisa lebih dekat dengan anak-anak panti” pungkasnya.</div>
<div></div>
<div>araska</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">sumber:</div>
<div id="_mcePaste">http://artpartner-news.blogspot.com/2011/12/240711-minggusenin-pa-bhakti-luhur.html</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bhaktiluhur.org/pa-bhakti-luhur-berharap-walikota-lebih-dekat-dengan-anak-panti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

