BERITA

BERMAIN DENGAN TEKNOLOGI BAGI ABK USIA SEKOLAH

BERMAIN DENGAN TEKNOLOGI
BAGI ABK USIA SEKOLAH

Disusun oleh :
Nurmala
Staf Pengajar Sekolah Bhakti Luhur

Jumat, 14 Maret 2008

I. Pendahuluan
Bermain adalah sebuah aktivitas yang tidak akan pernah ditinggalkan oleh anak. Pada usia sekolah bermain masih tetap mendominasi seorang anak untuk melakukan aktivitas rutinnya. Permainan memerankan sebuah aktivitas penting guna menunjukkan identitas diri pada seorang anak. Anak dengan berbagai aktivitas permainnannya akan dapat menujukkan lebih baik sebuah obyek daripada seorang anak lain yang tidak melakukan sebuah permainan. Dalam hal ini, permainan merupakan aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari dunia anak.


Pada usia sekolah, seorang anak dengan permainan yang dilakukannya dapat menjadi dilema yang tidak akan dapat dipisahkan dari tugas dan hak seorang anak. Pada satu sisi seorang anak mempunyai hak untuk melakukan permainannya, sedangkan pada sisi lain seorang anak yang berada pada usi asekolah mempunyai kewajiban untuk melakukan belajar terutama bagi anak ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Dua hal ini pada saat tertentu menjadi ganjalan penting yang sangat dipikirkan oleh seorang anak dan juga bagi seorang pengajar.
Untuk menjembatani dua aspek yang ingin ditunjukkan ialah dengan cara melakukan kolaborasi untuk kedua aspek yang ingin ditunjukkan, yaitu belajar dan bermain. Bagaimana pendekatan yang dapat digunakan menjadi relevan dengan dua hal tersebut? Jawabannya ialah bermain dengan menggunakan teknologi. Konsep dasar yang ingin dibangun ialah dengan menggunakan berbagai sumberdaya yang tersedia dalam teknologi untuk diaplikasikan dalam sebuah materi pembelajaran, sehingga materi tersebut tidak dianggap sebagai sebuah materi yang sulit secara harfiah, akan tetapi akan menjadi tekanan pada permainan yang dilakukan oleh seorang anak terutama bagi anak yang mempunyai kemampuan minimal.

II. Bermain


Secara definitif bermain merupakan tindakan bersenang-senang dengan sebuah obyek benda yang dilakukan seorang anak. Bagi anak, Bermain merupakan sarana bagi anak-anak untuk belajar mengenal lingkungan kehidupannya. Pada saat bermain, anak-anak mencobakan gagasan-gagasan mereka, bertanya serta mempertanyakan berbagai persoalan, dan memperoleh jawaban atas persoalan-persoalan mereka. Melalui permainan menyusun balok misalnya anak-anak belajar menghubungan ukuran suatu obyek dengan lainnya. Mereka belajar memahami bagaimana balok yang besar menopang balok yang kecil. Mereka belajar konsep bagaimana hal-hal yang lebih besar mampu menopang hal-hal yang lebih kecil.
Pada tataran yang lebih luas, bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kemampuan emosional, fisik, sosial dan nalar mereka. Melalui interkasinya dengan permainan., seorang anak belajar meningkatkan toleransi mereka terhadap kondisi yang secara potensial dapat menimbulkan frustrasi. Kegagalan membuat rangkaian sejumlah obyek atau mengkonstruksi suatu bentuk tertentu dapat menyebabkan anak mengalamai frustrasi. Dengan mendampingi anak pada saat bermain, pendidik dapat melatih anak untuk belajar bersabar, mengendalikan diri dan tidak cepat putus asa dalam mengkonstruksi sesuatu. Bimbingan yang baik bagi anak mengarahkan anak untuk dapat mengendalikan dirinya kelak di kemudian hari untuk tidak cepat frustrasi dalam menghadapi permasalahan kelak di kemudian hari.
Secara fisik, bermain memberikan peluang bagi anak untuk mengembangkan kemampuan motoriknya. Permaian seperti dalam olahraga mengembangkan kelenturan, kekuatan serta ketahanan otot pada anak. Permaian dengan kata-kata (mengucapkan kata-kata) merupakan suatu kegiatan melatih otot organ bicara sehingga kelak pengucapan kata-kata menjadi lebih baik.
Dalam bermain, anak juga belajar berinteraksi secara sosial, berlatih untuk saling berbagi dengan orang lain, menignkatkan tolerasi sosial, dan belajar berperan aktif untuk memberikan kontribusi sosial bagi kelompoknya. Di samping itu, dalam bermain anak juga belajar menjalankan perannya, baik yang berkaitan dengan jender (jenis kelamin) maupun yang berkaitan dengan peran dalam kelompok bermainnya. Misalnya dalam permainan perang-perangan seorang anak belajar menjadi pimpinan, kapten sedangkan lainnya menjalankan peran sebagai pendukung. Dalam hubungannya dengan jender, anak-anak melakukan permainan stereotype sesuai dengan budaya dan masyarakat setempat. Misalnya, anak-anak perempuan bermain masak-masakan, sementara anak laki-laki bermain perang-perangan. Dalam hal ini anak-anak menjalani proses pembentukan identifikasi diri dengan bercermin pada hal-hal yang ada di tengah masyarakat, terutama pada tempat dimana mereka belajar dan berinteraksi.
Pada kesempatan bermain inilah anak berkesempatan untuk mengembangkan kemampuan nalarnya, karena melalui permainan serta alat-alat permainan anak-anak belajar mengerti dan memahami suatu gejala tertentu. Kegiatan ini sendiri merupakan suatu proses dinamis di mana seorang anak memperoleh informasi dan pengetahuan yang kelak dijadikan landasar dasar pengetahuannya dalam proses belajar berikutnya di kemudian hari.

III. Kontribusi teknologi
Dengan melakukan sebuah permainan, seorang anak akan mendapatkan identitasnya dengan baik dan berusaha untuk menunjukkan jati dirinya sebagai seorang anak seutuhnya. Secara gamblang dapat diungkapkan bahwa seorang anak yang mempunyai kemampuan bermain yang baik, secara tidak lansung berpengaruh kepada pemampuan nalarnya ketika berhadapan dengan sebuah permasalahan, akan tetapi sebaliknya, bagi seorang anak yang mempunyai kebutuhan khusus (ABK) maka dapat diprediksi bahwa anak tersebut sangat membutuhkan sentuhan pengajar ketika mereka melakukan interaksi dalam pelajaran. Bukan hanya dalam menyerap materi akan tetapi juga dalam kesempatan bermain pula, mereka harus didampingi oleh pengajar.


Pada sekolah inklusi yang mempunyai anak didik yang berkebutuhan khusus, peranan pendidik menjadi sangat dominan. Terlebih lagi jika seorang pendidik tersebut menangani beberapa anak yang mempunyai kebutuhan khusus tertentu. Misalnya anak dengan organ tubuh yang tidak lengkap, anak autis, ataupun juga anak yang mempunyai permasalahan di lingkungan domestik keluarganya. Hal ini sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran anak ketika menyerap informasi yang disampaikan pengajar.
Untuk lebih memudahkan para pengajar untuk menyampaikan informasi atau materi, dibutuhkan banyak sumberdaya yang tidak hanya difokuskan pada bagaimana seorang anak dapat memahami akan tetapi bagaimana menyampaikan proses pembelajaran yang disukai oleh anak. Pembelajaran seperti inilah yang ingin diusahakan dengan menggunakan teknologi.
Teknologi dapat digunakan untuk berbagai macam kegiatan yang secara tidak lansung dapat menyampaikan sebuah materi yang dikemas dengan wadah berbeda. Misalnya pengajaran pendidikan sosial, seorang anak yang mendengarkan ceramah seorang guru, akan merasa lebih cepat malas daripada seorang anak yang mendengar ceramah dari seorang obyek animasi pada sebuah komputer. Dengan adanya obyek animasi itulah dapat dikembangkan berbagai materi dasar yang secara otomatis akan menambah daya serap siswa terhadap materi. Terutama bagi anak dengan kualitas tertentu.

IV. Usia Sekolah
Dalam usia sekolah tuntutan yang dihadapi oleh anak semakin banyak. Tekanan sekolah, lingkungan sebaya serta tuntutan belajar yang semakin tinggi membuat anak harus lebih mampu menghadapi tuntutan sosial masyarakat. Bahkan tidak jarang orang tua pun menuntut anak demikian besar untuk berprestasi tinggi, dan adakalanya harapan orang tua melebihi kapasitas anak untuk dapat mencapainya.
Berbagai kondisi sosial yang penuh tuntutan baik dari sekolah, teman sebaya maupun orang tua dapat menimbulkan berbagai permasalahan bagi anak antara lain dalam proses belajar. Anak sulit berkonsentrasi. Prestasi anak menurun dengan sangat tajam. Motivasi anak untuk belajar sangat minim. Berbagai keluhan tersebut merupakan sebagian kecil keluhan rutin yang kerap disampaikan oleh para orang tua pada konselor. Tidak jarang bahakan orang tua justru menekankan keluhan bahwa anak-anak mereka terlalu senang bermain, sehingga kurang belajar. Padahal justru melalui bermain, mereka bisa belajar lebih banyak lagi. Terutama bermain dengan asumsi bahwa mereka melakukan permainan dengna perangkat komputer akan tetapi pada substansinya mereka sedang menyerap informasi yang disampaikan melalu teknologi.

V. Bermain Teknologi Untuk ABK
Bermain dan alat-alat permainan yang menggunakan teknologi memiliki fungsi terapi terhadap anak, terutama bagi ABK. Proses belajar ABK justru sebaiknya dilakukan melalui metode bermain dan dengan alat-alat permainan yang disediakan khusus. Namun hal ini hendaknya tidak disalah artikan dengan istilah “main-main”. Proses belajar dapat merupakan proses yang sangat membosankan untuk dikerjakan oleh anak-anak, sedangkan anak-anak biasanya lebih tertarik dengan permainan. Karena, proses bermain dan alat-alat permainan merupakan perangkat komunikasi bagi anak-anak. Melalui bermain anak-anak belajar berkomunikasi dengan lingkungan hidupnya, lingkungan sosialnya serta dengan dirinya sendiri. Melalui bermain anak-anak belajar mengerti dan memahami lingkungan alam dan sekitarnya. Melalui bermain anak-anak belajar mengerti dan memahami interaksi sosial dengan orang-orang di sekelilingnya. Melalui bermain anak-anak mengembangkan fantasi, daya imajinasi dan kreativitasnya.
Seorang ABK pada dasarnya mempunyai kemampuan intelektual yang baik ketika diusahakan untuk mencerna sebuah permsalahan dan mencari solusi didalamnya. Akan tetapi kemampuan mereka untuk menyerap permsalahan itulah yang menjadi bagian paling sulit dilakukan. Oleh karenanya dengan adanya teknologi dapat membatu penyerapan permasalahan yang diusahakan oleh seorang pengajar dengan mempersiapkan solusinya.
Bermain merupakan proses dinamis yang sesungguhnya tidak menghambat anak dalam proses belajar, sebaliknya justru menunjang proses belajar ABK. Keberatan orang tua terhadap aktivitas bermain anak justru menghambat kemampuan kreativitas anak untuk mengenal dirinya sendiri sendiri serta lingkungan hidupnya. Hanya saja, proses bermain anak perlu diarahkan sesuai dengan kebutuhannya. Anak-anak yang cenderung menyendiri sebaiknya tidak dibiarakan untuk terlalu sibuk dengan “solitary play”. Sebaliknya mereka sebaiknya diarahkan untuk lebih aktif dalam permainan kelompok. Mereka yang kurang mampu untuk berkonsentrasi dapat diberikan berbagai jenis permainan yang lebih terarah pada pemusatan perhatian seperti mengkonstruksi suatu benda tertentu. Anak-anak yang kurang mampu untuk mengekspressikan diri secara verbal dapat dibina untuk mengembangkan bakat kreatifnya melalui media misalnya menggambar. Namun pendidik juga selayaknya membimbing anak dalam mengekspressikan imajinasi serta fantasinya ke dalam bentuk gambaran yang konkrit dan tidak membiarkan anak-anak berfantasi tanpa arah yang jelas; karena hal ini dapat mengakibatkan konfabulasi dalam proses berpikir anak. Dengan menggunakan teknologi inilah kemampuan seorang anak akan dapat ditingkatkan beberapa tingkat, karena peluang yang sangat besar inilah seorang anak akan lebih memfokuskan dirinya kepada permainan teknologi, bukan terfokus pada kejenuhan menyerap informasi.
Kemampuan mengingat anak adakalanya terbatas karena perhatian anak yang kurang terhadap hal-hal tertentu. Kondisi seperti ini dapat diperbaiki dengan menggunakan pola assosiatif misalnya dengan menggunakan warna-warna tertentu pada hal-hal tertentu sehingga anak dapat dengan mudah mengingat hal tersebut jika ia mengenal warnanya. Bentuk-bentuk tertentu dari yang mulai sederhana sampai yang lebih kompleks juga dapat diberikan pada anak untuk mengingat hal-hal tertentu. Misalnya mengingat bentuk huruf R dengan menyertai gambar Rumah.
Demikian banyak hal yang dapat dikembangkan melalui proses bermain bagi kesejahteraan pertumbuhan dan perkembangan anak berkebutuhan khusus. Orang tua hendaknya tidak bersikap anti-pati terhadap proses bermain, karena dalam proses bermain anak terkandung proses belajar, dan dalam proses belajar anak terkandung unsur terapi bagi anak agar lebih tangguh dalam menghadapi lingkungan hidup mereka di kalangan masyarakat luas, kelompok sebayanya maupun lingkungan hidupnya secara umum. Peluang dan keberhasilan dengan menggunakan teknologi bagi pembelajaran ABK maka sangat penting untuk diperhatikan sehingga dampak positif dapat dirasakan oleh anak sebagai sebuah aset yang tidak ternilai dalam kehidupan ini.

diambil dari: http://bhaktiluhurmalang.blogspot.com/2008/03/artikel-sekolah.html

Punya Account Facebook?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *