BERITA

Berupaya Agar Anak Mandiri

MALANG
http://www.sigab.org/story/yayasan-bhakti-luhur-malang

Berupaya Agar Anak Mandiri
www.sigab.org

Tuesday, July 20th, 2010

Yayasan ini tergolong tua dan lengkap dalam penanganan anak difabel. Setidaknya ada 7 jenis difabilitas yang ditanganinya. Selain itu, juga menangani beberapa jenis penyandang masalah sosial di luar difabel. Itulah Yayasan Bhakti Luhur Malang yang didirikan sejak 1959.

Menjelang sore di Jalan Raya Dieng, Malang, tepatnya di ujung jalan, ada pemandangan yang nampak lain. Di depan rumah besar dengan pagar tinggi dan pintu yang selalu tertutup nampak sekelompok difabel. Ada yang pakai kursi roda, ada pula yang pakai kruk, tapi yang jelas mereka nampak ceria dan penuh canda.

Dan, ternyata, di balik pagar tinggi itu terdapat lebih banyak lagi anak-anak dengan berbagai jenis difabilitas. “Saat ini terdapat 750 penyandang masalah sosial yang ditampung di Yayasan Bhakti Luhur Malang,” papar Justina, koordinator asrama Yayasan Bhakti Nurani. Lebih jauh dia menjelaskan bahwa sebagian besar dari mereka adalah difabel, dan masyarakat juga lebih mengenal tempat ini sebagai penampungan anak difabel.

“Jenis difabilitas yang kita tangani juga macam-macam, di antaranya tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, epilepsi, dan tunaganda. Selain itu juga menangani anak yatim piatu, anak telantar, tunagizi, lansia, dan kusta,” lanjut Justina.

Yayasan milik suster-suster pembina ini memang cukup besar. Keberadaannya tersebar di seluruh Indonesia dengan sekitar 1.200 anak asuh dan Malang sebagai pusatnya.

Malang juga sebagai tempat pendidikan pekerja sosial. Sampai saat ini sudah ada 2.500 pekerja sosial yang dididik dan mereka telah bertugas di cabang Yayasan Bhakti Luhur di seluruh Indonesia.

Pusat Yayasan Bhakti Luhur yang ada di Malang ini berada di atas lahan seluas 2 ha. Di area itulah berdiri beberapa bangunan bertingkat yang berfungsi sebagai sekolah dan asrama. Di sana juga terdapat klinik dan sarana penunjang lainnya untuk pembinaan dan pengembangan anak asuh.

Integrasi ke Masyarakat
Di samping itu, Yayasan Bhakti Luhur juga menyewa rumah penduduk yang difungsikan sebagai wima, dan saat ini terdapat 80 wisma yang tersebar di Malang. Sebagaimana dituturkan Agnes Sapta, direktur yayasan ini, keberadaan wisma di luar yayasan tersebut dimaksudkan agar masyarakat bisa lebih mengenal anak-anak difabel, sehingga mereka tidak dianggap sebagai komunitas aneh dan harus disisihkan.

Untuk itulah pada setiap sore mereka diajak jalan-jalan dan berbaur dengan masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, masyarakat juga terbiasa dengan keberadaan mereka.

Untuk pembinaan di setiap wisma dikembangkan sistem keluarga. Artinya, setiap wisma terdapat bapak dan ibu yang dibantu oleh beberapa perawat, dan setiap wisma dihuni sampai 25 anak.

Sedang para perawat tersebut juga merupakan pekerja sosial yang telah dididik di yayasan ini. Memang yayasan ini juga menyediakan program pendidikan pekerja sosial tingkat akademis (S-1) dan pendidikan perawat keluarga selama 1 tahun.

Selama itu juga sering ada relawan yang turut membantu, dengan menyumbangkan tenaga atapun keahliannya. Misalnya, pada setiap Jumat ada seorang relawan yang datang ke yayasan untuk memberikan pelatihan salon kecantikan. Beberapa waktu yang lalu juga ada mahasiswa Jerman yang meluangkan waktunya untuk memberikan pelayanan kepada anak asuh.

Pusat Yayasan Bhakti Luhur di Malang ini juga menyelenggarakan pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Sekolah ini, di samping untuk anak asuh, juga terbuka untuk umum. Namun, masyarakat menengah ke atas masih enggan menyekolahkan anaknya di yayasan ini. Pasalnya, dianggap sebagai sekolahnya anak difabel atau dari keluarga miskin. Untuk mereka yang difabel juga disediakan sekolah luar biasa, mulai dari TK hingga tingkat lanjut.

Titip Anak Lalu Menghilang
Tidak semua anak asuh boleh tinggal di asrama atau wisma. Aturan ini khusus dikenakan pada anak asuh yang masih punya orangtua yang tinggal di Malang. Bagaimanapun, peran orang tua tetap diharapkan dalam pendidikan atau terapi anaknya. Adapun yang tinggal di asrama diharapkan bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga setiap liburan.

Kendati demikian, ternyata ada juga orangtua yang justru tidak menghendaki anaknya. “Berapa pun akan saya bayar, pokoknya anak saya bisa tinggal di sini,” ungkap Agnes Sapta menirukan para orangtua yang enggan merawat anaknya.

Biasanya orangtua yang demikian itu justru dari kalangan menengah ke atas. Tentu sangat menyedihkan karena bagaimanapun si anak pasti masih membutuhkan kasih sayang orangtuanya. Bahkan, yang menyedihkan lagi, di saat liburan pun mereka tidak dijemput. Seringkali anak-anak yang demikian itu kemudian ngambek serta tidak mau melakukan apa pun, bahkan ada yang jatuh sakit.

“Kita inginnya sharing dengan orangtua tentang perkembangan anaknya, tetapi ada juga orangtua yang menanggapinya dengan dingin,” tutur Agnes. Seakan mereka tak butuh informasi itu dan keberadaan anaknya dianggap bukan lagi urusan mereka.

“Bahkan, ada juga orangtua, setelah menitipkan anaknya, lalu pergi tanpa meninggalkan alamat. Sehingga, pernah suatu saat ada anak yang kondisinya sudah parah dan meninggal, tetapi ketika orangtuanya dihubungi ternyata sudah pindah entah ke mana,” ungkap Agnes lebih lanjut.

Dididik Mandiri
Di Yayasan Bhakti Luhur ini anak-anak dibina agar bisa mandiri yang pada akhirnya bisa berintegrasi dengan masyarakat.

Tentu saja tidak semua anak bisa berkembang seperti yang diinginkan, karena kondisinya. Ada anak yang mengurus dirinya sendiri saja tidak bisa. Untuk yang demikian, pengembangannya hanya sebatas bagaimana agar mereka melakukan kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Seperti misalnya bisa ke kamar mandi sendiri, berpakaian sendiri.

Untuk bisa mandiri, dalam arti bisa mencari nafkah sendiri, anak asuh juga dibekali berbagai keterampilan yang disesuaikan dengan jenis difabilitasnya. Jenis keterampilan yang diajarkan antara lain pelatihan konveksi, pertukangan, membatik, membuat lilin, membuat tempe, tata boga, komputer, dan fotokopi.

Namun demikian, semua pelatihan tersebut masih cenderung pada terapi. Dengan tingkat kerja tersebut diberikan uang saku sebagai penghargaan pada hasil kerja mereka.[Agus]

Punya Account Facebook?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *