BERITA

Gereja Pohsarang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Gereja Pohsarang atau Puhsarang adalah sebuah Gereja Katolik Roma yang terletak di desa Pohsarang, kecamatan Semen, Kediri, di kaki Gunung Wilis, Jawa Timur.
Sejarah
Gereja Katolik di Pohsarang didirikan atas inisiatif pribadi dari Romo Jan Wolters CM dengan bantuan arsitek terkenal Henri Maclaine Pont pada tahun 1936. Keindahan arsitektur Gereja Pohsarang melekat pada dua nama ini, arsiteknya Ir Maclaine Pont dan pastornya Romo Jan Wolters CM. Ir. Henricus Maclaine Pont sangat pandai dalam membentuk keindahan bangunan Gereja yang mengukir kebudayaan Jawa; sementara Romo Wolters sebagai inisiator memberi roh pengertian mendalam tentang makna sebuah bangunan Gereja dengan banyak simbolisme untuk katekese iman Katolik. Dalam konteks karya misi Gereja Katolik di Keuskupan Surabaya, Romo Wolters dikenal sebagai “rasul Jawa” (bersama Romo van Megen CM dan Romo Anton Bastiaensen CM). Disebut “rasul Jawa”, karena sebagai misionaris Belanda ia sangat mencintai dan menghormati orang Jawa, bahasa Jawa dan kebudayaan serta nilai-nilai kejawaan. Romo Jan Wolters CM adalah pastor di paroki Kediri pada waktu itu. Insinyur Maclaine Pont juga yang menangani pembangunan museum di Trowulan, Mojokerto, yang menyimpan peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit. Sehingga bangunan Gereja Pohsarang mirip dengan bangunan Museum Trowulan. Sayang bahwa gedung museum di Trowulan itu sudah hancur pada tahun 1960 karena kurang dirawat dengan baik sebab kurangnya dana untuk pemeliharaan dan perawatan. Romo Wolters, CM, minta agar sedapat mungkin digunakan budaya lokal dalam membangun gereja di stasi Pohsarang, yang merupakan salah satu stasi dari paroki Kediri pada waktu itu.
Romo Jan Wolters CM (kanan) bersama Ir. Henri Maclain Pont . Sumber foto: SV-Missie 1938
Peletakan batu pertama gereja dilakukan pada tanggal 11 Juni 1936, bertepatan dengan pesta Sakramen Mahakudus, oleh Mgr. Theophile de Backere CM, Prefek Apostolik Surabaya pada waktu itu. Dalam gereja kuno ini terdapat dua bagian pokok yakni Bangunan Induk dan Bagian Pendapa. Dalam sambutannya pada waktu peletakan batu pertama, Ir. Maclaine Pont membeberkan rancangannya bahwa hiasan-hiasan simbolis yang ada di salib, seperti mahkota duri, I.N.R.I., Alpha dan Omega, monogram Kristus, paku-paku, nyala api yang menjilat di sekeliling tengah dan akhirnya tetesan darah pada kaki merupakan bagian dari iman Katolik yang penting. Di bawah salib yang besar yang menjulang dengan megah di atas Gereja yang kecil itu, akan bergantung merpati perak di dalam gereja. Karena Kristus adalah satu-satunya perantara antara Tuhan dan manusia, Dialah yang telah mempertemukan kita kembali dengan Allah Bapa oleh kematian-Nya di kayu Salib dan selanjutnya menganugerahkan kita cinta kasih dan Roh Kudus, yang mengemudikan Gereja dan menyucikan para anggotaNya. Empat ujung balok yang menonjol akan melambangkan empat pengarang Injil, yang harus menyebarkan ajaran Kristus. Sementara gambar kedua belas rasul mengatakan bahwa di atas pondasi para rasul-lah Gereja didirikan. Maka, bangunan gereja ini akan merupakan “Kitab Suci” bagi umat yang sederhana yang tak dapat membaca. Seperti halnya raja Jawa yang tinggal di istana (kraton) dengan benteng sekelilingnya dan gapura mengelilingi kraton dan rumah, begitulah juga di sini orang Jawa Katolik, yang harus menunggu kalau hendak menghadap Kristus, Raja dari segala raja. Pertama-tama harus melewati gapura, melalui menara “Henricus” yang besar, untuk mencapai “Istana Tertutup”, dimana umat melalui serambi para katekumen, akhirnya sampai di istana Sang Raja. Di tempat yang suci itu, yang sudah terpisahkan jauh dari dunia biasa, dia akan merasakan lebih dekat dengan Tuhan, dia akan berlutut menunduk di depan “porta coeli” – “pintu Surga”. Gereja yang bangunannya sama-sekali terbuka ini kecuali sekitar panti imam, akan memungkinkan mengikuti upacara-upacara suci dari Istana Raja dari segala raja. Dan, Dua ribu orang dapat ditampung di situ.
Sekilas bangunan gereja di Pohsarang mirip dengan perahu yang menempel pada sebuah bangunan mirip gunung. Bangunan yang mirip gunung ini melambangkan atau menggambarkan Gunung Ararat di mana dulu perahu nabi Nuh terdampar setelah terjadi air bah, yang menghukum umat manusia yang berdosa (Kitab Kejadian 8:4), sedangkan bangunan yang mirip perahu tadi menggambarkan atau melambangkan Bahtera atau Perahu Nabi Nuh, yang menyelamatkan Nuh dan keluarganya yang percaya pada Allah, bersama dengan binatang-binatang lainnya.
Aristektur
Bangunan Induk
Bangunan Induk yang mirip dengan gunung tadi merupakan bagian sakral atau kudus di mana terdapat altar dan sakramen mahakudus, Bejana Baptis, sakristi dan tempat pengakuan dosa. Bagian ini dulu dikhususkan untuk mereka yang sudah dibaptis, yang telah menjadi anggota umat. Pada masa dulu di dalam gereja memang dipisahkan antara mereka yang masih calon baptis dengan mereka yang sudah dibaptis, namun perbedaan itu sekarang sudah dihapuskan. Setiap orang, bahkan mereka yang bukan Katolik pun, kalau ia mau, dapat masuk ke dalam bagian ini, asalkan dia tidak mengganggu kekhidmatan ibadat. Memang dalam budaya Jawa, gunung atau gunungan adalah lambang tempat yang suci di mana manusia bisa bertemu dengan penciptanya.
Bangunan Induk memiliki atap berbentuk seperti cupola atau kubah. Diatas atap dipasang salib, pada ujung atap dipasang gambar simbolis keempat pengarang injil yakni Santo Matius Penginjil (manusia hersayap), Santo Markus Penginjil (singa yang bersayap), Santo Yohanes Penginjil (burung rajawali) dan Santo Lukas Penginjil (lembu jantan), yang juga menunjukkan keempat arah mata angin. Atap bangunan yang berbentuk gunungan itu dibentuk dari empat lengkungan kayu yang ujung simpangnya merupakan bagian pengunci. Lengkungan itu menyangga suatu jaringan kawat galvanis, yang di atasnya dipasang genteng-genteng, yang akan bereaksi dengan tenang dan memamtul pada setiap tekanan angin.
Altar yang ada dalam gereja ini menarik dan punya bentuk yang khas, dibuat dari batu massif, kemudian dipahat. Pahatan di altar tersebut terdapat gambar seekor rusa yang sedang minum air, sedangkan rusa yang lain sedang menunggu minum air. Rusa yang sedang minum air menggambarkan mereka yang telah dibaptis, sedangkan rusa yang menunggu untuk minum air menggambarkan calon baptis atau para katekumen. Air yang mengalir dari 7 sumber melambangkan 7 sakramen dalam gereja. Sesuai dengan tata cara liturgi pada waktu itu, yaitu sebelum Konsili Vatikan II tahun 1965, maka bila seorang imam mempersembahkan misa di altar, dia membelakangi umat, tidak menghadap ke arah umat seperti yang lain dalam tata cara misa saat sekarang.
Di atas altar terdapat relief dari batubata merah yang disusun tanpa semen, tapi menggunakan campuran air, kapur dan gula. Kemudian batu-batu bata digosok dan direkatkan pada batu bata lainnya dengan campuran tadi sehingga saling menggigit dengan baik walaupun tidak menggunakan adukan semen seperti zaman sekarang ini.
Di atas altar terdapat tabernakel dari kuningan, tempat untuk menyimpan Hosti. Di sebelah kiri-kanan tabernakel suci terlihat gambar keempat penginjil. Persis di atas altar terlihat gambar kain dengan gambar Yesus. Di atasnya ada gambar Hati Kudus Yesus yang tertusuk tombak, kemudian tulisan INRI. Disampingnya terlihat gambar para malaekat. Sebenarnya di bagian atas terdapat mahkota, yang sekarang sudah rusak/hilang. Relief yang dibuat dari batu bata merah atau batu bata, mirip dengan relief yang biasa ada pada candi-candi zaman Majapahit.
Pada sisi sebelah Barat (atau kiri altar) terdapat relief perjamuan pesta perkawinan di Kana yang dihadiri oleh Yesus, para rasul dan Bunda Maria (Yoh 2: 1-11). Di bagian Barat di atas pintu sakristi terdapat gambar Abraham yang akan mengorbankan Iskak anaknya (Kej. 22: 1-19). Kemudian terdapat patung Maria dari batu yang menggambarkan Bunda Maria sedang menggendong kanak-kanak Yesus. Patung itu terletak dalam lekukan yang menggambarkan litani Maria. Kemudian di sana juga terlihat bejana baptis dari kerang yang besar, di atasnya kelihatan relief yang menggambarkan ketika Yesus dibaptis di sungai Yordan (Mat 3:13-17). Kemudian di bagian paling atas terdapat relief yang menggambarkan perahu Nuh dan seekor merpati terbang membawa daun yang hijau, setelah air bah surut (Kej. 8:11).
Di sebelah Timur altar (atau kanan altar) terdapat relief Yesus yang sedang menggandakan roti untuk 5000 orang (Mrk 6,30-44). Kemudian di atas pintu masuk sakristi terdapat relief Imam Agung Melkisedek sedang mempersembahkan roti dan anggur kepada Allah (1ih. Kej. 16:1820). Di sebelah Timur ada patung Yesus terbuat dari batu. Lengkungan di mana terdapat patung Yesus itu dihiasi dengan relief yang menggambarkan sebutan-sebutan untuk Yesus dalam litani Hati Kudus Yesus.
Maksud adanya relief di altar dan sekeliling altar adalah untuk memberikan hiasan pada altar dan sebagai sarana untuk katekese atau untuk mengajar umat yang sederhana. Relief semacam ini biasa terdapat dalam katedral katedral dan gereja-gereja kuno di Eropa, dimana terdapat relief, patung-patung dan mosaik dari kaca yang indah sekali. Karena orang pada waktu itu duduk bersila di lantai ketika mengikuti misa, maka relief dibuat rendah supaya mudah dilihat. Sekarang pun kalau misa orang juga masih duduk bersila atau “lesehan” (bahasa Jawa).
Bangunan Gereja secara unik dikelilingi oleh benteng yang terbuat dari batu-batu dan tampak kokoh. Yang lebih menarik lagi adalah memperhatikan bentuk pintu gerbang atau pintu masuk. Terdapat tiga pintu: pintu utama dengan model bangunan megah terletak di samping; pintu yang terletak di depan pendopo yang langsung berhadapan dengan makam (umat Katolik); dan pintu samping yang terlihat sempit dan kecil. Konsep benteng batu yang kokoh, pintu utama yang megah, pintu sempit, pintu yang berhadapan dengan makam berasal dari kreativitas Romo pendirinya, Romo Jan Wolters CM.
Romo Wolters CM berpendapat bahwa Gereja adalah “Rumah Tuhan” (Keraton Dalem), di situ bertahta Yesus Kristus, sang Raja segala raja. Tetapi, Yesus Kristus adalah Raja yang menyambut umatNya secara personal, pribadi. Ia adalah Raja yang tidak sulit dijumpai. Ia adalah Raja yang menyambut siapa pun yang datang kepada-Nya. Ia adalah Raja yang disembah dalam relasi kemesraan dan keakraban. Pintu yang megah melambangkan gerbang Rumah Tuhan yang harus megah, menyongsong umat Allah yang datang untuk “sowan” dan menyembah Rajanya. Pintu yang sempit mengatakan seperti dalam Injil bahwa untuk masuk ke Kerajaan Allah, orang harus melewati pintu yang sempit. Untuk dekat dan berelasi dengan Tuhan, lorong jalannya kerap sulit, sempit. Pintu yang berhadapan dengan makam mengukir sebuah kebenaran iman, bahwa terhadap umat Tuhan yang telah wafat berpulang ke keabadian, mereka semua disambut oleh Kristus Sang Raja dalam Rumah Abadi di Surga. Jadi, Gereja Pohsarang itu indah bukan hanya karena bentuknya, melainkan juga karena ada katekese iman yang melekat erat pada bangunan tersebut. Dan, katekesenya amat kaya serta mendalam.
………………..
………
Renovasi Gereja
Antara kompleks Puh Sarang sekarang ini dengan keadaan pada waktu didirikannya pada tahun 1936 terlihat sudah terjadi banyak perubahan dan penambahan bangunan serta luasnya areal yang dipakai untuk kepentingan umat. Bangunan amphiteater yang dulu untuk main sandiwara sudah tidak ada lagi, dan sebagai gantinya di tempat itu sekarang muncul Taman Hidangan Kana. Namun bangunan Induk yaitu Gereja tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya, meskipun gentengnya dan kawat baja yang ada terpaksa diganti sebab sudah lapuk dimakan usia. Perbaikan dan renovasi itu perlu diadakan karena kalau tidak dilakukan gereja Puh Sarang akan rusak dan hancur seperti museum di Trowulan.
Renovasi Pertama Tahun 1955
Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1955 oleh Romo Paul Janssen, CM, yang waktu itu menjadi imam di paroki St. Vincentius a Paulo, Kediri. Ia memperbaiki atap tanpa mengubah bentuk bangunan gereja.
………………..
………
Referensi
St. Vincentius a Paulo, Missietijdschrift der Lazaristen, 15 Juli 1937, hlm. 108.
Bdk. St. Vincentius A Paulo. Missietijdschrift der Lazaristen, 26 JRG 6e AFL, November 1936, hlm. 177 & 178. Lih. Armada Riyanto CM., 80 Tahun Romo-Romo CM di Indonesia, CM Provinsi Indonesia, Surabaya, 2003, hlm. 83-88.
Ibid.
Lih. Aloysius Budijanto CM, Gereja Puh Sarang sebagai Bangunan Ibadat menurut Budaya Jawa, tesis di STFT Widya Sasana, Malang 1991.
Ibid.
St. Vincentius a Paulo, Missietijdschrift der Lazaristen, 29e Jaargang, 6e AFL., No. 158, 15 Nopember 1939, hlm. 171-173.
Armada CM-STFT Widya Sasana
Armada Riyanto CM, Membangun Gereja dari Konteks, Dioma dan STFT Widya Sasana, Malang, hlm. 37-43.
St. Vincentius a Paulo, Missietijdschrift der Lazaristen, 15 Juli 1937, hlm. 108-110.
Lih. Mgr. J. Hadiwikarta, Puh Sarang: Tempo Doeloe dan di Tahun 2000, Surabaya 1999, hlm.21-28. Simak juga Primanto Nugroho e.a., Tempat Ziaraha Santa Maria Pohsarang: Napak Tilas Gereja Umat, Produksi Pohsarang Creat Studio, Yogyakarta, 1999. Dalam terbitan ini, diberikan artikel-artikel reflektif yang menarik.
Lih. Mgr. J. Hadiwikarta, Gua Maria Lourdes Puh Sarang, Kediri, Keuskupan Surabaya, Sekretariat Keuskupan Surabaya, 2001. Buku ini merupakan tulisan yang diasalkan dari beberapa sumber tentang Puhsarang dan terutama untuk menyajikan pembangunan Gua Maria yang terletak beberapa puluh meter dari Gerejanya.
sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Pohsarang

Punya Account Facebook?

2 Responses to Gereja Pohsarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *