BERITA

Laporan sukarelawan di Bhakti Luhur

Indonesia – Dutch – English

Laporan sukarelawan di Bhakti Luhur

Verslag van een vrijwilligster in Bhakti Luhur

Bhakti Luhur Voluntaire Report

Februari 2009

“Hi misterrrr” … :Segera saya disambut dengan hangat oleh anak-anak ketika berada di dalam area Bhakti Luhur sambil mendapat kesan lucu bahwa kelas Bahasa Inggris disini (sepertinya) “belum” mengajarkan “misses” (panggilan hormat untuk perempuan). Hal ini adalah salah satu dari beberapa hal yang saya temukan dalam penyampaian pendidikan disini.

“Hi misterrrr”… Al snel werd ik herkend door de kinderen wanneer ik me op het terrein van Bhakti Luhur begaf en ontdekte ik dat de Engelse lessen hier (nog) geen ‘miss’ ‘misses’ bevatten. Dit was een van de vele leerzame ontdekkingen die ik deed.

“Hi misterrrr” …  I was warmly welcomed by the children when I am in the compund of Bhakti Luhur and I suddenly discovered that the English classes here (yet) “miss” to include “misses”. This was one of the many educational discoveries I found.

Pada tanggal 2 Februari 2009 saya memulai petualangan baru saya sebagai relawan untuk Bhakti Luhur. Saya mempunyai ijazah Ilmu Orthopedagogy (ilmu mengatasi depresi pada anak-anak) yang sudah selesai studinya pada musim panas lalu; dan ingin, setelah 4 bulan, untuk memperoleh pengalaman kerja serta dapat sedikit menghasilkan di Bartiméus; yang mana salah satu proyeknya adalah bekerja sukarela membantu “anak-anak khusus” di Indonesia. Setelah lama mencari di internet mata saya lalu tertuju pada situs studi kasus Soza dan lalu bertekad dalam hati “aku ingin pergi kesana!”.

Op 2 februari 2009 begon mijn avontuur als nieuwe vrijwilliger bij Bhakti Luhur. Ik had mijn studie Orthopedagogische Wetenschappen afgelopen zomer afgerond en wou, na 4 maanden ervaring opdoen en sparen door te werken bij Bartimeus, graag vrijwilligerswerk doen met ‘speciale kinderen’ in Indonesië. Na veel zoeken op het internet was mijn oog gevallen op de website van SOZA en ik wist ‘daar wil ik heen!’.

On February 2nd , 2009 I started my new adventure as a volunteer for Bhakti Luhur. I had my Orthopedagogical Sciences study completed last summer and wanted, after 4 months, to gain experiences and earn something by working at Bartiméus, some sort of volunteer work with “special children” in Indonesia. After a lot of searchings on the Internet, I had my eyes on the website of Soza cases and it hits me suddenly ‘I want to go!”.

Dengan koper penuh dengan informasi dasar mengenai penyakit tersebut saya segera tiba, tapi lalu terkejut, karena ternyata organisasi ini sudah memiliki banyak pengetahuan dengan metode di dalamnya, dan saya sangat terkesan! Meskipun demikian, diakui masih ada “lubang” di sana-sini dan beberapa perbaikan masih diperlukan. Hal ini terutama mengenai ilmu pengetahuan yang terbaru, dan ini adalah sesuatu yang masih sangat baru di Indonesia sebagai negara yang tertinggal. Setelah melewati beberapa pemikiran dan konsultasi, saya bertekad untuk melakukan tugas yang jelas disana: yaitu mendirikan pelatihan untuk merawat-jalan anak-anak penderita autisme di sekolah umum.

Met een koffer vol basisinformatie over stoornissen kwam ik aan, maar tot mijn verbazing bleek de organisatie al veel kennis en methodes in huis te hebben, ik was erg onder de indruk! Toch zitten er nog genoeg ‘gaten’ her en der waar verbetering nodig is. Hier is vooral de nieuwste kennis nodig en dat is iets waar Indonesië als land nog erg in achter loopt. Na wat nadenken en overleg had ik daarmee een duidelijke taak voorhanden: het opzetten van een training voor ambulant begeleiders van kinderen met Autisme in het reguliere onderwijs.

With a suitcase full of basic informations about the disorders I arrived, but to my surprise, the organization has already got a lot of knowledge and methods in the house; I was very impressed! However it still has enough “holes” here and there, and some improvements are needed. This is especially about the newest knowledge and that it is still very much new in Indonesia as a country which lags behind. After some thoughts and consideration, I made up my mind to do a clear task: setting up a training for providing out-patient care for children with autism in mainstream schools.

Pendidikan inklusif lalu segera dimulai, yang mana di Belanda autisme adalah juga sesuatu yang buruk. Oleh karena itu, saya menggunakan dua metode dari Belanda: “Give me five” dan “Murid dengan Autisme di kelas”. Setelah lebih dari tiga bulan, hasil akhirnya sudah jelas: yaitu sebuah buku latihan yang berisi teori, kunci, sampel, kontrak dalam praktek, dan berbagai macam lampiran. Pada bulan Juni, pelatihan sudah bisa dimulai.

Inclusief onderwijs is nog maar net van start en ook op het gebied van Autisme loopt Nederland erg voor. Ik heb daarom gebruik gemaakt van twee methodes uit Nederland: “Geef me de vijf” en “Leerlingen met Autisme in de klas”. Na ruim drie maanden ligt het eindresultaat klaar: een trainingsboekje met theorie, tussentoetsjes, voorbeelden, opdrachten voor in de praktijk en diverse bijlagen. In juni gaat de training van start.

Inclusive education has just started and in the Netherlands, autism also has a bad name. I have therefore used two methods from the Netherlands: “Give me five” and “Students with Autism in the classroom “. After more than three months, the end-result is clear: an exercise booklet with theory, between keys, samples, contracts in practice, and various attachments. In June, the training begins.

Selain melakukan pekerjaan ini, saya juga memiliki dua komputer / 7 typles yang saya berikan kepada anak-anak perempuan disana, karena mereka sangat ingin tahu dan bisa belajar dengan cepat. Sangat menyenangkan untuk dipakai dan merupakan pemberian yang bagus dari ‘kantor’.

Naast dit werk heb ik ook twee keer per week computer/typles gegeven aan 7 meiden, ze waren erg leergierig en leerden snel. Erg leuk om te doen en een mooie afwisseling op het ‘kantoorwerk’

Beside this work, I have two computers / 7 typles which later were given to the girls, since they were very curious and able to learn quickly. Very fun to use and such a nice gift from the ‘office’

Karena pelatihan sudah selesai, saya melihat bahwa saya bisa meninggalkan Bhakti Luhur dengan ketenangan pikiran; untuk menemui tantangan baru saya yaitu memberikan kontribusi ke yayasan lain di lingkungan yang berbeda. Akhirnya pada tanggal 14 Mei saya lalu mengucapkan selamat tinggal kepada organisasi Bhakti Luhur yang indah dan sekarang saya akan meneruskan perjalanan selama enam minggu ke Bali, ke Yayasan Kasih Peduli Anak, yang didedikasikan untuk anak-anak jalanan.

Masa-masa disini adalah masa yang indah dan saya bisa belajar banyak, saya berterima kasih kepada semuanya saja di Bhakti Luhur atas keramahtamahan mereka, serta melanjutkan perjalanan sambil berpesan agar semuanya setuju untuk bisa “rukun bersama.”Salam hangat dari Indonesia yang indah.

Aangezien de training afgerond is, zag ik mijn kans om Bhakti Luhur met een gerust hart achter te laten en een nieuwe uitdaging aan te gaan door ook een bijdrage te leveren aan een andere stichting in een andere omgeving. Afgelopen 14 mei heb ik definitief afscheid genomen van de mooie organisatie Bhakti Luhur en ik zal nu voor 6 weken op Bali blijven voor Yayasan Kasih Peduli Anak, die zich inzet voor straatkinderen.

Het was een mooie tijd en ik heb veel mogen leren, ik ben iedereen van Bhakti Luhur erg dankbaar voor hun voortdurende gastvrijheid en behulpzaamheid en raad iedereen aan om eens ‘even langs te gaan’. Hartelijke groet uit het prachtige Indonesië.

Since the training has been completed, I saw my chance to leave Bhakti Luhur with peace of mind and ready for a new challenge to contribute to yet another foundation in a different environment. Last May 14 I finally said goodbye to the beautiful foundation of Bhakti Luhur and will now continue my journey of six weeks in Bali, serving Yayasan Kasih Peduli Anak; a foundation dedicated entirely for children living on the street.

This was such a great time and I could learn a lot; I’m all very grateful to the people of Bhakti Luhur for their continuing hospitality and helpfulness, and counseled everyone to agree “just to get along. ”

Warm greetings from beautiful Indonesia.

Mathanja Blok
diambil dari: http://www.soza.org/nieuws/verslag%20mathanja%20blok.htm

taken from: http://www.soza.org/nieuws/verslag%20mathanja%20blok.htm

Punya Account Facebook?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *