BERITA

Live In Rekat St. Yakobus

“Suasana Live-In Remaja Katolik Paroki Santo Yakobus Surabaya di Kediri”

11-13 Juni 2011 “AKU DENGAN KELUARGA BARUKU”

Liputan Live In Rekat St. Yakobus, 11-13 Juni 2011

“AKU DENGAN KELUARGA BARUKU”

Pagi itu pukul 9, hiruk pikuk dan lalu lalang para remaja dengan ransel dan tas jinjing di depan kantor sekretariat Paroki St. Yakobus mewarnai kegiatan live in yang dimulai hari ini selama 3 hari di desa Kalibago-Kalipang. Sebuah desa kecil di kotamadya Kediri – Jawa Timur, 4 jam perjalanan dengan bus dari Surabaya. Di desa  yang ber-atmosfer perbukitan ini, kami menemukan suasana yang sangat jauh berbeda dari Surabaya yang sarat dengan hiruk pikuk keramaian, kemacetan serta adanya fasilitas hiburan dimana-mana.

Setiba disana, 51 peserta Rekat beserta 3 pembina Rekat berkumpul di aula Panti asuhan Bhakti Luhur, disambut dengan sukacita oleh ketua Stasi Bapak Ponimin dan warga setempat.  Tiap 2 peserta tinggal bersama dengan 1 keluarga, ada pula 4 peserta tinggal bersama dengan 1 keluarga serta 3 peserta tinggal bersama dengan 1 keluarga. Total 22 keluarga yang ditempati oleh peserta live in, para pembina tinggal di panti asuhan sebagai posko.

“MENYUSURI RUMAH WARGA”

Walau waktu jam makan siang telah lewat, Sr. Brigita penanggung-jawab panti asuhan Bhakti Luhur mengajak pembina bersantap siang dan bercerita tentang kegiatan panti asuhan yang mengasuh 15 orang dengan pelbagai cacat bawaan dari usia anak-anak hingga kakek-nenek.

Penjelajahan desa kami lakukan di sore hari, jalan tanjakan naik-turun kami temui disana membuat nafas kami tersengal-sengal, maklumlah….di Surabaya tidak kami temui. Karena lokasi jauh diatas bukit, signal telpon celular tidak bisa terjangkau, hanya pada lokasi tertentu signal bisa didapat, itupun terkadang bagus terkadang jelek. Terlihat beberapa peserta live in menyusuri desa untuk lebih mengenal desa tempat mereka tinggal. Dibelakang panti asuhan terdapat sungai yang merupakan sumber air bagi kehidupan warga desa, dahulu sungai tersebut dipakai untuk minum, memasak, mencuci serta buang air kecil/besar, kini hal itu tidak lagi dilakukan karena warga sudah mempunyai tempat MCK yang dibangun oleh mahasiswa Universitas Petra (KKN). Petang hari pukul 18.30, segenap umat stasi dan peserta live in sudah berdatangan di aula panti asuhan untuk mengikuti Doa Novena hari ke-9  dan sharing dipimpin oleh Asisten Imam Bapak Kateman yang juga merupakan salah satu warga desa. Romo Benny Suwito, selaku romo pendamping datang setelah doa novena berakhir dengan membawa nasi kikil hangat khas kota Jombang, sangat nikmat disantap dalam udara yang dingin. Setelah bersantap malam, pembina melakukan ronda malam untuk memastikan peserta tinggal dalam rumah yang dihuni. Kebiasaan peserta yang tidur hingga larut malam dan berkumpul bersama teman-teman, membuat warga desa menunggu kedatangan peserta di teras rumah. Pembina mencoba mengingatkan peserta untuk mengikuti kebiasaan hidup warga desa, bukan sebaliknya. Kegelapan malam terasa menyelimuti desa dalam ketenangan, suara jangkrik menambah keindahan suasana malam hari dan sinar rembulan mampu menembus kegelapan malam.

“BERCOCOK-TANAM & BERMAIN DI SUNGAI”

Pagi-pagi peserta live in sudah berkeliaran di desa, mereka merasakan kesejukan udara pagi, menikmati merdunya kicauan burung serta suara gemercik air sungai dan indahnya pemandangan sekeliling. Udara dingin tidak menyurutkan semangat peserta untuk mandi, sepotong pisang goreng, sepiring mie goreng dan secangkir teh hangat menemani sarapan pagi ini.  Pada pk. 08.00 peserta live dan segenap umat desa mengikuti perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh romo Yohanes Benny S. di gereja St. Yakobus Mayor Kalipang. Setelah perayaan Ekaristi berakhir, berlokasi di sungai peserta secara berkelompok mementaskan drama sesuai cerita di Injil yang dipilih. Para peserta dengan sukacita penuh kegembiraan bermain dan berendam di sungai tanpa rasa takut akan dinginnya air maupun licinnya bebatuan. Sekembalinya dari sungai, peserta live in mengikuti kegiatan sehari-hari keluarga tempat mereka tinggal, ada yang ke ladang kopi; ada yang ke ladang rosela; ada yang ke ladang coklat; ada yang memberi makan ternak; ada juga yang menuai, mencangkul, menanam serta mengangkut kunyit ke rumah, semua dilakukan dengan penuh sukacita oleh peserta. Mata pencaharian utama warga desa adalah menanam mangga. Tahun lalu gagal  panen mangga dikarenakan hujan berkepanjangan sepanjang tahun, mereka berharap tahun ini dapat memanen lebih baik untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sore hari, nampak beberapa peserta bermain bola bersama anak-anak desa dan apa pula yang kembali bermain di sungai hingga basah kuyup. Keceriaan dan kebersamaan nampak diantara mereka yang semula tidak saling mengenal. Waktu berjalan begitu cepat hingga tanpa terasa malampun tiba. Di malam hari pembina kembali menembus dinginnya malam melakukan ronda untuk memastikan peserta telah berkumpul dengan keluarga masing-masing.

“BERAKHIRNYA PETUALANGAN 3 HARI”

Hari terakhir, peserta mendapat tugas mengumpulkan tulisan tentang kehidupan mereka selama 3 hari bersama keluarga baru. Mereka mencari tempat menulis di pelbagai tempat, ada yang di depan gereja, di pos ronda, di teras rumah, di pinggir jalan dan ada pula menulis di sungai sambil berendam kaki. Sebagian besar peserta yang ditemui pembina, mengatakan mereka ingin tinggal lebih lama di desa ini, bagi mereka waktu 3 hari terasa singkat dan belum mempelajari semua kehidupan di desa. Peserta dapat bersosialisasi dengan baik bersama keluarga tempat mereka menginap, ada peserta yang bersedia tidur di lantai beralas tikar dikarenakan warga hanya mempunyai 1 kamar dan 1 ranjang. Beberapa peserta tinggal di rumah yang berlantai tanah atau batu bata, dan juga kamar tidur tempat mereka tinggal bersebelahan dengan kandang kambing, dan ada pula tempat tidur hanya tertutup secarik kain. Mendengar dan membaca tulisan peserta tentang pengalaman selama 3 hari hidup di desa, menghilangkan segala kekhawatiran yang disampaikan oleh orang tua. Peserta yang selama ini hidup dalam kecukupan dan kelimpahan dari orang tua serta minim-nya kebersamaan dalam keluarga karena kesibukan maupun rutinitas……mampu beradaptasi dan menjalin komunikasi dengan baik bersama keluarga sederhana yang mereka jumpai. Peserta menikmati hidup dalam kesederhanaan dan kerukunan didalam keluarga. Segala bentuk permainan individualis seakan lenyap, yang ada hanya kebersamaan dalam keluarga menjalani hidup sehari-hari. Hal yang ingin didapat melalui kegiatan live in adalah peserta merasakan kebersamaan, menikmati kerukunan dan mensyukuri berkat yang diterima dimanapun mereka berada dan bagaimanapun keadaannya. Pagi, siang, sore hingga malam hari, yang terasa adalah kebersamaan dan kerukunan hidup dalam kesederhanaan.

Menjelang pulang, peserta memberikan bingkisan kepada keluarga tempat mereka menginap, juga diberikan bantuan dari paroki yang diserahkan oleh romo Benny kepada keluarga tempat peserta menginap. Setelah makan siang, peserta berpamitan pada keluarga masing-masing dan kembali ke Surabaya dengan rasa puas akan pengalaman tak terlupakan. Berakhirlah petualangan Rekat St. Yakobus selama 3 hari.

Sumber dari:

http://www.santoyakobus.org/page/content/article/23/.html

Punya Account Facebook?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *