BERITA

Malaikat-Malaikat Tak Bersayap

Rabu, 24 Februari 2016 11:26 WIB

HIDUPKATOLIK.com – Sejumlah tarekat suster menjalankan karya kemanusiaan untuk penyandang disabilitas. Mereka adalah malaikat-malaikat tak bersayap. Mereka memberikan hati bagi “orang-orang tersembunyi”.

hidup malaikat no sayap

Siapa tak kenal Bunda Teresa dari Kalkuta India? Ibu kaum papa ini selalu muncul dengan senyum teduh, bersari putih tipis bergaris-garis biru. Hingga wafatnya, ia hadir bagi orang-orang terbuang, miskin dan sekarat, cacat mental dan fisik, serta gelandangan dan yatim-piatu. Ia berani meninggalkan kemapanan dan keluar dari tembok biara.

Situasi Kalkuta memang amat memprihatinkan kala itu. Kata Bunda Teresa, di kota bengis ini, anjing diperlakukan lebih baik dibanding manusia. Di Kalkuta banyak terdapat wilayah kumuh dan padat penduduk. Ada seloroh tentang Kalkuta, “Jika tak ingin dikencingi atau diberaki, pasanglah gambar dewa di pagar rumahmu. ”

Utusan Tuhan
Uniknya, Tuhan justru mengirim malaikat-malaikat tak bersayap dalam diri Bunda Teresa dan para suster dari tarekat yang ia dirikan, Misionaris Cinta Kasih (Missionaries of Charity, MC) ke tempat itu. Mereka hidup bersama kaum terpinggirkan, merawat, dan mengantar mereka yang tak terselamatkan menuju nirwana dengan layak.

“Aku telah hidup seperti binatang di jalanan, tapi sekarang akan mati sebagai seorang malaikat yang dicinta,” kata seorang laki-laki yang dirawat kepada Bunda Teresa di pantinya. Meski Bunda Teresa sudah mangkat, karya pelayanannya tetap berlanjut. Tarekat yang didirikan Bunda Teresa pada 1950, berlabuh di Indonesia lima tahun lalu. Tepatnya di Weoe, Timor, Nusa Tenggara Timur, Keuskupan Atambua.

Tuhan tak hanya mengirim malaikat tak bersayap itu ke Kalkuta. Dia juga mengirim malaikat-malaikat tak bersayap yang lain ke Tanah Air ini.

Di Madiun, Jawa Timur, Keuskupan Surabaya, Tuhan mengutus salah satu malaikat tak bersayapnya dalam rupa Sr Genoveva Eva Alma. Biarawati kelahiran Nagekeo, Flores, NTT ini sudah dua tahun berkarya di Panti Asuhan Bhakti Luhur. Sr Geno tinggal satu atap bersama 48 anak, 24 diantaranya penyandang disabilitas.

Acapkali Sr Geno menghujat dirinya bila bercermin. “Saya malu, saya terlalu banyak merengek dan menuntut. Sementara mereka hampir tidak pernah putus asa,” katanya.

Anak difabel tak dipatok jam bangun pagi. Sedangkan anak-anak yang lain bangun pukul empat pagi. Usai sarapan, para pengasuh menuntun dan menjemur anak-anak. Beberapa waktu kemudian, mereka masuk sekolah. Yayasan Bhakti Luhur juga punya Sekolah Luar Biasa. “Butuh kesabaran, perjuangan, dan kerja keras mendampingi mereka,” ungkap Sr Geno. Tetapi, mereka tidak ingin selalu dikasihani. Nyatanya, mereka kerapkali berjuang mengatasi keterbatasannya.

Pemandangan serupa juga terlihat di PA Sayap Kasih, Tomohon Barat, Keuskupan Manado. Ladang pelayanan itu dikelola para suster Tarekat Suster Dina Santo Yoseph (Sorores Minores Sancti Josephi/SMSJ). Penghuni PA Sayap Kasih ada 20 penyandang disabilitas fisik dan mental.

Pengasuh panti Sri Sarman dan Marcel Ogi, senantiasa terhibur menyaksikan tingkah lucu penghuni PA. Mereka tak menampik, kadang sedih bila tak sanggup berbuat banyak membantu keterbatasan dalam diri anak-anak panti. Keduanya hanya mampu berkanjang dalam karya dan hadir di tengah para difabel. Sikap itu selaras dengan visi sang pendiri PA, Bruder Han Gerritse CSD, bekerja di PA teruji jika bisa hadir bersama para penghuni.

Mutiara Berharga
Semangat baja rupanya senantiasa dimiliki kaum difabel. Di Yayasan Sosial Marfati, Tangerang, Banten misalnya, para mantan penyandang kusta beraktivitas seperti orang umum di kebun dan konveksi. Mereka bekerja, Senin-Sabtu, pukul 7.30-14.30.

Ada pula sistem lembur di yayasan yang dikelola Tarekat Suster Jesus Maria Joseph (JMJ) itu. Mereka kadang menerima banyak pesanan jahit. Meski begitu, para pengurus tak pernah ngoyo. Jika ada karyawan yang lelah, mereka bisa istirahat atau kembali ke rumah. “Jangan sampai lelah,” pesan Sr Mediatrix Ronga JMJ.

Muder Komunitas JMJ Tangerang dan pendamping mantan penyandang lepra itu bahagia berada di tengah mereka. “Hidup saya bermanfaat untuk orang. Mereka merasa dicintai dan diperhatikan” kata biarawati yang sudah lima tahun di yayasan
itu.

Selain Yayasan Marfati di Keuskupan Agung Jakarta, di sebelah Timur negeri ini ada Rumah Sehat dan Panti Rehabilitasi bagi penyandang lepra. Lokasinya di Naob, Kefamenanu, Timor Tengah Utara, NTT. Pelayanan di Keuskupan Atambua itu dikelola Tarekat Putri Renha Rosari (PRR). Sudah 10 tahun lembaga dengan nama pelindung “Maria Bunda Penolong Abadi” ini beroperasi.

Sr Rosana PRR yang telah 10 tahun berkarya di sana menuturkan, harus punya berlaksa kesabaran kala mendampingi penderita lepra. Pengobatan bagi mereka berlangsung lama dan terus-menerus. Adakalanya, pasien bandel. Mereka tak mau minum obat. Hal itu bisa berakibat fatal. Mereka bisa cacat fisik digerogoti mycobacterium leprae.

Moda transportasi dari dan menuju ke lokasi masih minim. Akses jalan parah. Listrik pun mati-hidup. Tantangan pelik ini kadang membuat gerak pelayanan tersendat. Namun, yang paling menohok adalah tak sedikit keluarga pasien yang sulit menerima mantan penyandang kusta.

Mereka yang tak dianggap sembuh ditampung dan dikaryakan oleh para suster. Mereka mengerjakan beraneka ketrampilan. Para suster PRR tak hanya menyembuhkan fisik, tapi juga hati serta mengangkat martabat mereka.

Pun karya para suster FCJM (Franciscanae Cordis Jesu et Marie/Putri-Putri Fransiskan dari Hati Kudus Yesus dan Maria) di komunitas Pematangsiantar, Keuskupan Agung Medan dan di Jatibening, Keuskupan Agung Jakarta. Mereka juga mendampingi kaum difabel. Hasil kerja mereka pun mampu bersaing dengan hasil karya orang pada umumnya.

Selain itu, ada beberapa suster yang secara personal punya perhatian bagi kaum difabel, seperti para Suster Notre Dame (SND) di Jakarta. Ada empat suster SND di Jakarta, salah satunya Sr Theophila SND, yang ikut membantu pendampingan rohani bagi kaum difabel di Komunitas Efata, Rawamangun, Jakarta Timur. Dia juga mendampingi calon Komuni Pertama dan calon Krisma bagi orang berkebutuhan khusus dalam Kompak di Paroki Kramat, Jakarta Pusat.

Tak Putus Harapan
Syukur, Tuhan tak hanya mengirim seorang malaikat tak bersayap ke Kalkuta. Di Indonesia, banyak utusan-Nya yang melayani secara tersembunyi. Mereka datang, merawat, hadir dan menyembuhkan. Namun, syukur saja tak cukup tanpa terlibat nyata. Jika tenaga tak mampu didarmabaktikan, sumbangan pikiran, materi, terutama doa bisa menjadi opsi.

Yanuari Marwanto

Laporan: R.B.E. Agung Nugroho, Yusti H. Wuarmanuk, Marchella A. Vieba, Wiliam Sondak (Manado)
sumber:
http://m.hidupkatolik.com/index.php/2016/02/24/malaikat-malaikat-tak-bersayap

Punya Account Facebook?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *