BERITA

Menghayati Kehidupan Melalui Live In

REP | 10 February 2012
Apakah anda tega membiarkan anak anda tinggal di lingkungan asing yang benar-benar kumuh sementara anda tinggal di rumah yang nyaman? Apakah anda sanggup melihat anak anda mengais-ngais sampah demi untuk mencari sesuap nasi sementara nasi di rumah anda melimpah sampai terbuang sia-sia tidak termakan? Apakah anda rela melihat orang lain menyuruh-nyuruh anak anda untuk melayaninya sementara di rumah mereka terbiasa dilayani? Pernah anda bayangkan bagaimana rasanya tinggal di bawah kolong jembatan? Tinggal di antara tumpukan sampah menggunung yang memancarkan bau tidak sedap?
Saya yakin pasti jawabannya tidak. Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, bahkan rela menderita demi anaknya. Tetapi bagaimana jika sekolah memaksa anak anda untuk merasakan kerasnya kehidupan? Anak anda dipaksa meninggalkan segala kenyamanan dan fasilitas yang disediakan orang tua?  Kegiatan sekolah tersebut pasti akan menimbulkan pro  dan kontra di kalangan orang tua murid.
Salah satu kegiatan unggulan sekolah kaya adalah live in, sebuah kegiatan yang “memaksa” siswanya tinggal dan berbaur di lingkungan marjinal. Sebuah kegiatan yang diharapkan membawa nilai-nilai positif bagi pengembangan sisi sosial dan kemanusiaan siswa-siswa tersebut.  Tak jauh beda dengan tayangan televisi berjudul “Tukar Nasib”, siswa-siswa dibawa ke lingkungan yang bertolak belakang dengan kehidupannya sehari-hari. Contohnya SMA Kolose De Britto Yogyakarta yang mengirim 251 siswanya untuk diterjunkan ke tempat-tempat asing, menantang, dan yang tidak mereka ketahui sebelumnya (Kompas). Pada live in sosial yang berlangsung selama 24-30 Januari 2012, siswa SMA tersebut dikirim ke beberapa tempat, diantaranya tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Bantar Gebang,  pemukiman kumuh di kolong Tol Teluk Gong Jakarta Utara, dan Panti Asuhan Bhakti Luhur Malang (panti asuhan anak-anak berkebutuhan khusus).
Hari ini, anak pertama saya yang bersekolah di SMP Kristen Satya Wacana Salatiga mulai menjalani live in selama tiga hari di desa Cuntel, Kopeng, Kabupaten Semarang. Meski lingkungannya tidak seekstrim yang dijalani siswa SMA De Britto, sebagai orang tua rasa kekhawatiran tetap ada. Dalam lingkungan dan suasana yang sangat berbeda dengan kondisi di Salatiga, ia harus meninggalkan kenyamanan dan pelayanan di rumah. Terselip harapan untuk anak saya dan teman-temannya, semoga mereka yang terbiasa manja dan serba dilayani di rumah mampu beradaptasi tinggal di lingkungan pedesaan, bisa menikmati aroma kandang sapi yang menyatu dengan rumah, melihat kerja keras petani-petani di ladang, bisa tidur meski tanpa kasur yang empuk, dan tetap bisa makan dengan lauk seadanya. Suatu pengalaman berharga untuk bisa menghargai dan mensyukuri apa yang mereka miliki selama ini.  Semoga mereka bisa menghayati kehidupan melalui live in.
sumber:
http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/10/menghayati-kehidupan-melalui-live-in/
http://www.yatikurniawati.com/menghayati-kehidupan-melalui-live-in/

Punya Account Facebook?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *