BERITA

Mereka Yang Terlupakan

Mereka Yang Terlupakan

Monday, June 11, 2007

Tak seperti biasanya matahari siang itu bersinar tidak terlalu terik. Langit masih terlihat mendung. Tadi pagi hujan baru saja mengguyur beberapa sudut kota Khatulistiwa ini. Hingga hawa dingin masih terasa meski waktu hampir menunjukkan pukul 12.00 WIB. Tak heran jika sebagian orang-orang yang lalu lalang di sekitar kawasan Jalan Wonoyoso, Kota Baru Pontianak mengenakan jaket untuk menghalau gerimis tipis yang masih enggan untuk beranjak.
Saya menghentikan sepeda motor tepat di sebuah rumah dengan catnya yang berwarna coklat kemuda-mudaan. Nuansanya sangat teduh sekali. Di depan, dekat pagar masuk terpasang papan nama “Yayasan Panti Asuhan Bakti Luhur” . Saya segera membuka pagar besi yang ternyata tidak terkunci.
Seorang perempuan muda yang umurnya sekitar 20-an dengan tiga bocah umuran 2 sampai 4 tahun terlihat sedang asyik bermain di sebuah ayunan yang terbuat dari besi.
Ia tersenyum ramah kepada saya dan saya pun segera membalas senyumnya. Kemudian segera saya utarakan maksud kedatangan saya yakni untuk mewawancarainya tentang Panti Asuhan Bakti Luhur tersebut. Tak lama muncul seorang perempuan biarawati yang oleh orang awam biasa dipanggil suster.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah kepada saya.
“Saya dari Borneo Tribune, bisa saya ketemu dengan pengurus atau pimpinan disini? tanya saya lagi.
“Mari silakan masuk,” tawarnya sambil membukakan pintu. Saya mengikuti langkahnya dari belakang.
“Suster Maria Goretti, pimpinan disini sedang keluar, barangkali bisa dengan saya,” tawarnya.
Kami pun berbincang-bincang sejenak. Saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri masing-masing. Namanya suster Yohana. Umurnya sekitar dua puluhan. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya.
Kami duduk bersebelahan di atas sebuah sofa yang empuk dalam sebuah ruangan yang seluruhnya dicat dengan warna putih. Ruangan itu disediakan untuk bermain bagi anak-anak di panti asuhan tersebut. Dan ruangan tersebut sering dikunjungi oleh tamu atau para dermawan padahal ada ruangan yang sebenarnya sudah disediakan bagi tamu.
Sebagian langit-langit dinding di ruangan tersebut dipenuhi gantungan hiasan yang menjurai ke bawah. Hiasan tersebut bergambar boneka dengan khas warna yang menarik bagi anak-anak dan ada pula sebuah gantungan yang terbuat dari sedotan. Dan jika tertiup angin, hiasan dari kertas tersebut akan meliuk-liuk seperti orang yang sedang menari.
Di dinding sebelah kanan terdapat struktur pengurus panti, mulai dari Ibu asrama, para perawat dan anak-anak panti asuhan yang berjumlah 25 orang. Sedangkan 10 orang lainnya ditempatkan di Panti Asuhan Bakti Luhur Jalan Podomoro.
“Panti asuhan yang disini khusus perempuan dan anak laki-laki yang masih kecil, sedangkan kalau yang sudah besar dipisahkan, mereka di tempatkan di Jalan Podomoro,” jelas Yohana.
Di depan pintu masuk terpasang spanduk. Rupanya baru saja salah satu dari penghuni panti asuhan tersebut meninggal dunia, karena menderita penyakit hidrocypalus.
Menurut Yohana, Panti Asuhan Bakti Luhur ini sudah berdiri sejak tahun 2002 dan dikelola oleh Suster Alma. Ini merupakan cabang dari Nanga Pinoh. Dimana penggerak pertamanya adalah suster Rensi. Semua penghuni di panti itu berasal dari kota Pontianak bahkan ada yang berasal dari luar Pontianak.
Tidak semua anak yang menghuni di panti asuhan tersebut tumbuh dengan normal. Sebagian anak cacat baik cacat fisik maupun cacat mental. Rata-rata mereka yang dititipkan berasal dari keluarga yang tidak mampu.
Bahkan tidak sedikit orang tua yang menitipkan buah hatinya di panti asuhan tersebut hingga saat ini tidak pernah mengunjungi mereka.
“Mereka menitipkan anak mereka disini, pada mulanya mereka mengunjungi anaknya, tapi tidak sedikit yang sampai sat ini tidak pernah datang lagi,” kata suster Yohana.
Biarawati berkulit hitam manis ini menuturkan anak yang dititipkan itu bervariasi umurnya. Mulai dari yang baru berumur satu hari sampai yang berumur lebih dari tiga tahun.
“Rata-rata merea yang dititipkan disini masih kecil-kecil, bahkan ada yang baru berumur satu hari,” jelasnya.
Tak berapa lama lewat dihadapan kami, seorang anak perempuan yang sedang di dodorong dengan kursi roda oleh seorang suster. Kepalanya membesar, ia sedikit tak berdaya, terbaring lemas di atas kursi roda itu. Sebagian tubuhnya ditutupi oleh selimut.
“Disini ada tiga orang yang menderita hidrocypalus, satu telah meninggal dunia dan satunya lagi itu,” tunjuknya dengan ibu jari kanannya pada seorang anak yang sedang digendong oleh salah seorang suster.
“Namanya Imanuel,” kata Yohana. Ia diam sesaat memandangi Imanuel yang sedang minum susu menggunakan botol, seorang suster namanya suster Renti membantunya.
“Umurnya baru satu tahun, dan ia adalah penghuni yang umurnya paling muda disini, orang tuanya sampai saat ini tidak pernah menjenguknya, ibunya cacat. Saat umurnya satu hari ia sudah diantar ke sini itu pun oleh tetangganya,” jelas Yohana panjang lebar.
“Selain itu ada pula seorang perempuan yang umurnya 37 tahun, ia menderita cacat fisik dan mental. Kaki tangannya tidak bisa digerakkan lagi,” ujar Yohana.
Selang beberapa menit. Tiga bocah segera mengerubunginya. Yohana tampak kewalahan tatkala bocah-bocah itu merangkul bahunya, ada yang duduk dipangkuannya dan ada yang bersandar di tangan kananannya.
“Disini mereka yang normal menjalani hidup seperti layaknya anak normal lainnya. Mereka diajari untuk andiri, sedangkan yang cacat sebisa mungkin juga kita ajari untuk mandiri, kalau tidak bisa makan sendiri, kita latih supaya bisa makan sendiri,” ujar Yohana.
Meski banyak anak-anak yang masih kecil-kecil. Lantai marmer yang putih bersih itu tak nampak ada sampah yang berserakan. Sebuah rak buku dari rotan duduk manis di sudut kanan ruangan.
Menurut Yohana, ada empat kamar yang digunakan untuk mereka tidur. Satu kamar dihuni kurang lebih 10 orang anak yang ditemani satu orang suster dan satu orang awam selaku relawan. Gelar awam ini untuk membedakan perawat dengan biarawati. Perempuan yang boleh menikah disebut awam. Sedangkan biarawati tidak boleh menikah selama kaul (perjanjian dengan Tuhan) belum dilepaskan.
Seperti anak-anak normal lainnya. Mereka juga sekolah. Yang normal sekolah di tempat umum, ada yang ikut play group dan yang cacat sekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB).
Yohana yang sudah setahun merawat anak-anak tersebut mengatakan walaupun anak-anak di panti asuhan itu cacat, perasaan mereka tetap sama layaknya anak-anak normal lainnya.
Saat pertama kali merawat anak-anak cacat itu Yohana merasakan sangat prihatin melihat kondisi mereka. Dengan perasaan sayangnya ia merawat anak-anak itu seperti seorang ibu terhadap anaknya.
“Saya senang bisa membantu mereka, kalau bukan kita siapa lagi yang mau peduli terhadap mereka,” ungkap Yohana.
Untuk masalah dana, Yohana mengatakan berasal dari para dermawan. Jika ditanya cukup atau tidak? sekali lagi dengan senyumnya yang tak pernah lepas, perempuan bijak ini mengatakan kalau masalah uang memang tidak bisa dikatakan cukup, namun karena dikelola dengan baik semua itu bisa diatasi. Semoga para dermawan semakin terketuk hatinya untuk membantu pembiayaan anak-anak yang terbuang dari keluarganya ini.

Maulisa/Borneo Tribune/Pontianak

diambil dari:
http://tuahtanto.blogspot.com/2007/06/mereka-yang-terlupakan.html

Punya Account Facebook?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *