BERITA

Tantangan Jadi Pelayan

Mar – 12 – 2011

(pengalamanku melayani anak-anak yang berkebutuhan khusus)

tidak hanya anak-anak ini yang membutuhkan pelayanan, tapi mungkin masih banyak yang membutuhkan pelayanan kita

Pengalamanku live in di Bhakti Luhur kurang lebih tiga minggu ini memberikan kesan tersendiri. Saya tinggal di Wisma Bunga Tanjung 4. Di Bhakti Luhur ini saya membantu melayani anak-anak yang berkebutuhan khusus. Pada awalnya saya merasakan cukup berat untuk tinggal dan melayani anak-anak ini. Di wisma ini ada 9 anak yang dilayani oleh 2 orang perawat dan 2 orang siswa praktik. Di tempat ini, mereka yang berkebutuhan khusus dipanggil dengan sebutan anak, walaupun usia mereka lebih tua. Anak-anak yang berkebutuhan khusus ini bermacam-macam : ada yang autis mulai dari ringan sampai yang berat/hyperaktif , ada retmen ( retardasi mental ), cp (cerebral palsy), epilepsy. Gejala yang menonjol pada anak yang autis adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah-olah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak austik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal. (sumber internet)

Di wisma ini anak-anak dibantu; mulai dari mandi, memakaikan pakaian hingga makan. Walaupun tidak semua yang dibantu, namun juga ada yang makan harus disuapi, karena memang kondisinya CP berat yang hanya bisa berbaring di tempat tidur. Satu anak ini yang harus dibantu semuanya termasuk membersihkan kotorannya ( feses dan urine). Bisa dibayangkan setiap hari harus mencium dan membersihkan kotorannya, apalagi pada jam-jam mandi.

Di tempat ini anak-anak ini juga diberikan ketrampilan, ada beberapa anak dalam setiap wisma itu yang diwajibkan untuk sekolah di SLB. Anak-anak ini didampingi oleh pengasuh, dan setiap hari anak-anak ini sekolah dari hari Senin sampai Sabtu. Di sekolah macam-macam ketrampilan yang mereka dapatkan; mulai dari menulis, membaca, berhitung, menempel, mewarnai, menggambar,menyulam, membuat sulak hingga membuat tempe bahkan masih banyak lagi. Kejadian lucu hingga aneh banyak dijumpai di sekolah; mulai dari yang marah/ngambek, teriak-teriak, ada yang tidur terus, ada yang lari kesana-kemari sambil ngoceh-ngoceh yang tidak jelas hingga kebiasaan-kebiasaan aneh misal ; setiap menit ada anak yang sering ke kamar mandi atau yang sering mengambilli kotak sampah dsb. Maka kesabaran sebagai pengasuh dan Guru itu sangat di harapkan. Dan bila tidak disadari dan tahu dengan kondisi anak ini kita akan berpandangan aneh, namun apabila sudah terbiasa semuanya akan menjadi biasa dan kita tidak merasa aneh lagi. Maka dengan kegiatan belajar ini yang diharapkan mereka dapat bersosialisasi dengan temannya dan memberikan motivasi bahwa mereka juga bisa berbuat untuk dirinya sendiri bahkan untuk orang lain.

Pengalaman ini membawa permenungan bagi saya, bahwa anak-anak inipun tidak menghendaki keadaan seperti ini. Namun justru karya Allah dalam diri mereka inilah yang membuka mata hati setiap orang untuk terlibat dalam karya penyelamatan Allah. Dengan keadaan mereka seperti itu, bahwa mereka masing-masing memiliki keunikan yang berbeda-beda. Maka kadang-kadang saya tertawa melihat tingkah anak-anak ini, namun juga sekali waktu membuat kesal dan jengkel terutama yang menderita autis hyperaktif. Kesabaran dan pengertian yang selalu dituntut dalam situasi seperti ini, karena kondisi mereka seperti itu. Pengalaman saya biasanya saya biarkan yang penting tidak merusak/menyakiti dirinya sendiri dan orang lain atau benda yang lain. Sekali lagi mereka ini mengalami kesulitan interaksi dan komunikasi yang harus disadari. Pertama-tama saya juga tidak mengerti dan memahami anak-anak ini, tapi melalui membaca dan bertanya akhirnya saya menjadi tahu.

Saya bersyukur dapat mengalami hidup bersama anak-anak yang berkebutuhan khusus ini, tidak hanya sekedar tahu mereka ini seperti apa, tapi melalui pengalaman ini menjadikan saya terbuka dengan situasi dan kondisi orang-orang yang membutuhkan pelayanan seperti anak-anak ini. Dan tidak hanya anak-anak ini yang membutuhkan pelayanan, tapi mungkin masih banyak yang membutuhkan pelayanan kita semua. Seperti halnya Yesus yang menjadi pelayan, kitapun juga diundang untuk menjadi pelayan kasih bagi sesama.

(Br. Albertus komang. A)

Novis II

Sumber dari:

http://kongregasibudimulia.com/2011/03/12/338/

Punya Account Facebook?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *