BERITA

Yayasan Anak Bhakti Luhur, Menjangkau yang Tidak Terjangkau

MAY 1, 2013 | BY Jaka Perdana
Selama ini anak serba kekurangan dianggap menjadi aib keluarga dan keberadaannya ditutup-tutupi dari dunia luar. Hal itulah yang menjadi perhatian dan salah satu latar belakang dibentuknya Yayasan Anak Bhakti Luhur oleh seorang bernama Profesor Paul Janssen.
Hal itu diutarakan oleh salah satu pelaksana yayasan Lisa A Ariyanto dalam sesi talkshow dan art performance anak-anak Yayasan Anak Bhakti Luhur (YABL) di JAKARTA MARKETING WEEK 2013 hari ketiga, (1/5) 2013. “Untuk itulah keberadaan kami. Untuk menampung anak-anak serba kekurangan, baik fisik dan mental. Tidak sekedar menampung, kami pun melatih mereka dengan beberapa keterampilan,” ujar Lisa yang juga seorang penyanyi ini.
Hal itulah yang juga mendasari motto YABL lewat caring-nya. Anak-anak kekurangan yang ditampung benar-benar diasuh oleh perawat, dengan 1 perawat untuk setiap 2 anak. Penanganannya pun berbeda untuk setiap anak, karena kekurangan yang dialami juga berbeda. Para perawat ini juga tidak hanya merawat, tetapi juga tidur bersama anak-anak.
Sebagai contoh, penanganan khusus anak yang mengidap kekurangan syaraf, diberi terapi. Untuk kekurangan fisik lainnya, diberi pelatihan fisik. Namun secara umum, anak-anak ini diajari keterampilan khususnya di dunia seni, seperti menyanyi, membatik, dan menari. Bahkan mereka yang laki-laki diajari keterampilan membuat lemari.
Dan tentu saja YABL tidak dapat hidup sendiri. Butuh dana yang disalurkan melalui donatur-donatur. “Kami punya program anak asuh. Di sini kami benar-benar mencari mereka yang amat peduli dengan anak-anak serba kekurangan, untuk menjadi relawan bersama YABL,” tutup Lisa.

Punya Account Facebook?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *